Tes

Tes

Advertisements

Menjadi Ayah ASI

“Kamu tuh sebagai istri gimana sih? Masa gak mau menyusui? Istri macam apa kamu?”

“Jangan sembarangan ngomong ya! Kewajiban mengasuh anak itu bukan cuma ada di istri. Tapi suami juga.”

“Maksud kamu aku yang harus menyusui gitu?”

“Emangnya kamu mau berhenti kerja demi merawat anak? Gak mau kan? Kenapa aku juga harus berhenti kerja demi mengasuh anak. Pekerjaan aku tuh model, enggak bisa aku menyusui dan mengurus anak. Banyak wanita-wanita cantik dan muda lainnya yang siap mengambil kesempatan kalau aku vakum terlalu lama. Seharusnya kamu paham itu!”

“Tapi bayi kita butuh menyusui langsung dari kamu!”

“Pakai susu formula saja. Susu formula juga banyak kok yang mahal dan bagus-bagus.”

“Ibu macam apa kamu…..”

PLAAAAK!!!

Gue menggaruk kepala meski gak gatel, masih mencerna ucapan kedua suami istri di atas. Untunglah adegan percakapan di atas hanya sebuah sinetron di ANTV yang ada unsur judul-judul India-nya, yang kebetulan gak sengaja gue tonton pas mengajak main anak gue.

Sumpah, beneran, yang nonton itu Asisten rumah tangga gue. Beneran deh.

Anyway, tapi gara-gara adegan itu, gue jadi kepikiran untuk nulis tentang Ayah ASI ini. Sekalian mengisi perdana tulisan di blog ini di tahun 2015. *cakar2 tembok bulan Agustus baru update blog lagi*.

Meskipun World Breastfeeding Week yang dilaksanakan tanggal 1-7 Agustus sudah terlewat, tapi gak ada salahnya sharing mengenai ASI dan peran seorang Ayah terhadap pemberian ASI kepada sang anak.

Jadi sebenernya apa sih Ayah ASI itu? Yang nyusuin kan ibunya? Kenapa Ayahnya ikut-ikutan nyusuin juga? Ayah kan gak punya payudara? Atau kelenjar susu, lebih tepatnya. Kalo sama-sama ikut menyusu ke ibunya, baru mungkin. Halah. Continue reading

Kaleidoskop 2014

Kata orang, waktu berjalan begitu cepat dan tidak terasa ketika lo menikmatinya.

Mungkin begitu juga dengan gue. Tahun 2014 ini hampir gak terasa berlalu begitu saja. Besok sudah berganti tahun menjadi tahun 2015. Tahun baru, Harapan baru.

Sepertinya baru kemarin gue berfoto seperti ini, dalam sebuah acara perayaan akhir tahun 2013 di kantor. Dengan tema superhero dan topeng Astroboy seperti ini.

0des2013Seperti tradisi tahun sebelumnya, setiap di penghujung tahun gue membuat Kaleidoskop highlight tentang apa aja yang udah terjadi dalam hidup gue. Tujuannya untuk mengingatkan agar gue tetap bersyukur atas rezeki, anugerah, berkah, dan semua hal yang baik yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dan jika itu adalah kejadian kurang baik, menjadi pengingat dan motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Kaleidoksop 2014 ini gue susun berdasarkan foto-foto yang ada di hape gue. Biasanya setiap ada momen yang unik, pasti gue sempetin untuk berfoto atau difoto.

So, here it goes, Kaleidoskop 2014 dari Dendi Riandi:

Januari – Bali Business Trip

Awal tahun baru 2014, gue hanya nikmatin di dalam rumah bersama mantan pacar yang kini statusnya sudah menjadi istri. Tak ada tempat yang ingin dikunjungi sebagai tempat meniup terompet hingga pagi dan menyaksikan letusan kembang api saat itu, seperti halnya di pergantian tahun baru 2013.

Di akhir bulan Januari, mendekati hari ulang tahun gue, kantor mengirimkan gue ke Bali untuk mengikuti sebuah meeting tahunan. Siapa yang gak mau liburan gratis dibayarin kantor? Jadi kesempatan itu gak gue sia-siakan. Setelah acara meeting hingga larut malam selama 2 hari itu selesai, hari ketiga adalah waktunya Jalan-jalan. Kebetulan objek Wisata yang dituju saat itu belum pernah gue datangi selama beberapa kali ke Bali. Yaitu Pulau Penyu yang ada di dekat Tanjung Benoa. Di sana, selain melihat penangkaran penyu, kita juga bisa melihat semacam Kebun binatang mini dan juga turis-turis Jepang yang berkelamin wanita, masih remaja dan menggemaskan.

1JanBusiness Trip ke Bali tidak sepenuhnya menyenangkan. Karena pada tanggal gue di sana tersebut, bertepatan dengan hari ulang tahun yang berubah dari kepala dua menjadi kepala tiga. Karena di sana bukan bersama teman-teman dekat ataupun keluarga, maka tidak ada satupun yang menyelamati gue di hari tersebut. Mungkin itu pertanda, bahwa pergantian usia yang kini menginjak kepala tiga, tidak perlu dirayakan dengan sukacita seperti halnya para remaja. Tapi dengan perenungan dan introspeksi diri.

Februari – Jogja Business Trip

Akhir bulan Februari, satu Group dari kantor mengadakan acara meeting tahunan juga. Kali ini tujuannya adalah Jogjakarta. Selain acara wajib meeting sampe malam seperti biasa, seperti biasa di hari terakhir ada sesi Jalan-jalan. Kali ini tujuannya ke salah satu objek yang belum pernah gue kunjungi juga selama mengunjungi Jogja, yaitu Candi Boko dan Jeep Trip ke Gunung Merapi.

2Feb

Maret – Malang and Bromo

Ajakan dari seorang teman untuk traveling membuat gue dan si istri ikut ke dalam sebuah traveling ala backpacker ke Jawa Timur. Tujuannya Malang dan Bromo. Pikiran kami waktu itu, ya sudah, mumpung istri gue belum hamil ya manfaatin dengan Jalan-jalan dulu.

Selama beberapa kali traveling, gue sih sudah terbiasa untuk naik kendaraan apa saja ke tempat tujuan yang penting sampe. Dan naik kereta ekonomi ke ujung Pulau Jawa adalah salah satunya. Tapi naik kereta ekonomi dan duduk selama belasan jam untuk traveling adalah hal yang baru untuk istri gue. Tapi demi rasa haus akan petualangan, Alhamdulillah si istri gak ada mengeluh selama perjalanan.

So, selama 3 hari 2 malam, gue dan istri beserta beberapa teman akhirnya berangkat menuju Malang dan dilanjutkan ke Bromo.

Orang bijak bilang, sejauh apapun perjalanan, seberat apapun jalurnya, jika dilakukan bersama orang special, akan menjadi tidak terasa. So, inilah traveling sederhana bareng istri untuk kesekian kalinya.

3marApril – Dubai and Abu Dhabi, Hari Kartini dan Kabar Yang Ditunggu-tunggu

Bulan April merupakan bulan yang paling menyenangkan kayaknya. Banyak hal-hal menggembirakan terjadi di bulan ini.

Hal pertama adalah (lagi-lagi) atas biaya kantor, gue berkesempatan mengunjungi salah satu Negara di Timur Tengah, yaitu Uni Emirat Arab. Gak tanggung-tanggung, dua kota utama dari UEA yaitu Dubai dan Abu Dhabi yang menjadi tujuan utamanya.

Di sanalah gue mendapatkan kesempatan untuk mencoba beberapa hal yang bahkan gak pernah masuk ke dalam wishlist traveling gue.

Di Dubai gue naik ke lantai teratas gedung yang pernah menjadi gedung tertinggi di dunia, yaitu Burj Al-khalifa dan off-road menggunakan jeep di padang pasir.

4april2Untuk di Abu Dhabi sendiri, gue mengunjungi Masjid terbesar di UAE yaitu Sheikh Zayed Grand Mosque dan bermain di salah satu Theme Park yaitu Ferrari World, dan naik roller coaster tercepat di dunia.

4april1

Selama di Dubai, gue mendapatkan kabar yang menggembirakan dari istri gue. Setelah mengerahkan tenaga, biaya dan juga doa, akhirnya istri gue positif hamil juga. Meskipun baru 5 bulan kosong sejak tanggal pernikahan, soal anak ini membuat istri gue lumayan stress. So, kabar bahwa istri gue sudah hamil 4 minggu adalah kabar yang paling membahagiakan bagi gue.

Di penghujung bulan April, kantor gue merayakan Hari Kartini. Meskipun kantor BUMN, tapi setiap perayaan Hari Kartini, selalu dirayakan dengan meriah dan kostumnya all out. Untuk tahun ini, di unit kerja yang baru setahun gue tempati, tema hari Kartini-nya adalah Kerajaan jaman dulu. ini beberapa fotonya.

4april3

Mei

Bulan Mei ini merupakan bulan yang cukup berat bagi gue dan istri gue. Karena hamil muda, beberapa kali istri gue mengalami muntah-muntah yang parah. Akibatnya di bulan ini sudah 2x bolak balik dirawat inap di RS.

Juni

Muntah-muntah yang hebat yang dialami istri gue di bulan Mei kemarin ternyata masih berlanjut. Bulan ini lebih parah lagi. Suatu sore gue dapat telepon kalo dia yang lagi bedrest di rumah, ternyata pendarahan.

Akhirnya si istri masuk RS lagi untuk dirawat inap. Dari hasil pemeriksaan, ternyata diketahui,kalau yang bikin muntah-muntah parah karena ada dua janin dalam rahimnya. Jadi hormone yang dikeluarin 2x lipat dari biasanya. Namun berita buruknya, pendarahan kemarin itu karena salah satu janinnya sudah tidak hidup lagi. Tapi masih bersyukur, janin satunya lagi masih sehat dan tidak terpengaruh.

So, bulan Juni gue masih menghabiskan waktu di RS menemani istri yang dirawat inap. Total 2 bulan dia gak kerja dan Cuma bedrest aja.

5Mei

Juli

Bulan Juli pun gak ada yang spesial.

Tapi di bulan ini gue bisa menjawab dua pertanyaan yang biasanya ditanyakan di momen khusus.

Kalo ada yang bertanya, “kapan nikah?”. Gue akan menjawab, udah bulan Oktober tahun kemarin. Nih istrinya.

Kalo ada yang bertanya, “istrinya sudah isi belum?”. Gue akan menjawab, Alhamdulillah udah. Udah Jalan 4 bulan.

Yup, Lebaran tahun ini gue gak menjalaninya dengan status sebagai single. Kali ini gue bisa berlebaran bersama istri tercinta plus calon janin yang ada dalam di kandungan.

7juli

Agustus

Bulan Agustus juga gak ada kejadian menarik dan yang bisa diceritain.

Di hape gue Cuma ada foto gue pake baju batik abis kondangan, berfoto di depan Theater JKT48 seperti om-om pedofil yang lagi nyari mangsa dedek2 gemes personil JKT48.

8agt2

September

Perut si istri makin gede, makin susah gerak. Tapi di bulan ini juga, pertama kalinya kami bisa melihat sang janin yang ada di rahim secara 4D. Rasanya sulit dituliskan dengan kata-kata.

9septOktober

Tak ada kejadian menarik di bulan Oktober. Atau mungkin ada, tapi gue lupa dan tidak terfoto di hape gue.

November

Bulan November, dapat business trip lagi ke Gili Trawangan, Lombok. Cuma karena di sana (lagi-lagi) untuk urusan rapat, dan kebetulan jadi panitia, maka gak banyak menikmati keindahan alam Gili.

11nov

Desember

Sesuai jadwal, harusnya waktu melahirkan istri gue sekitar Minggu ketiga bulan Desember. Tapi ketika awal desember kami periksa ke dokter, ternyata ada masalah dengan air ketubannya. Dokter langsung bilang, kalo ditahan akan berisiko, dan menyuruh istri untuk tindakan operasi Caesar besoknya.

Tapi karena belum siap-siap dan packing, dan kerjaan kami berdua juga belum siap untuk ditinggal cuti, maka rencana melahirkan itu ditunda besoknya lagi. Supaya cutinya tenang gak diganggu kerjaan.

Dan hari Sabtu, tanggal 6 Desember 2014, pukul 04.57 pagi, akhirnya lahirlah dengan selamat putri pertama kami yang kami beri nama Denisha Aldera Zahra.

12Des1

Denisha artinya Dewi Kesuburan. Memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat.

Aldera, berasal dari kata Alderamin, Bintang terterang di konstelasi utara Cepheus. Jalurnya menjadi penunjuk arah.

Aldera juga merupakan nama planet di film Star Wars. Planet tempat tinggal Putri Leia.

Aldera, Bintang yang terang dan bisa secantik putri Leia.

Zahra, artinya bunga yang berwarna Putih.

Denisha Aldera Zahra, berarti seorang yang wanita yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, menjadi Bintang yang paling terang dan suci seperti bunga berwarna Putih.

Dan sebagai penutup acara akhir tahun, gue merayakan dengan year end party di acara kantor. Kalau tahun kemarin temanya superhero, tahun ini temanya Bollywood.

12Des25

Tahun 2014 begitu banyak memberikan kebahagiaan bagi gue, meskipun beberapa kejadian ada yang membuat pilu yang ingin gue dan istri simpan sendiri saja. Tapi, Tuhan Maha Baik, semuanya akan indah pada waktunya itu memang benar adanya.

So, Goodbye 2014, welcome 2015.

12Des3

Bapak.

Sekitar 2 minggu lalu, ranah politik di dunia maya sedikit ramai ketika Pak Jokowi, Presiden Indonesia yang baru mengumumkan jajaran menteri di Kabinetnya. Salah satu menteri yang cukup banyak diperbincangkan adalah ibu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kenyataan bahwa Ibu Susi hanyalah seorang tamatan SMP. Sepanjang sejarah, mungkin beliau adalah satu-satunya menteri yang mempunyai latar Belakang pendidikan hanya sekolah menengah pertama.

Saat itu, di timeline Facebook gue pun heboh tentang berita Ibu Susi yang lulusan SMP ini diangkat menjadi menteri oleh Pak Jokowi, baik status yang memberikan dukungan maupun yang memberikan kritikan mengarah ke sirik dan nyinyir. Tidak terkecuali salah satu teman gue, pendukung garis keras Koalisi Merah Putih sejak masa kampanye pilpres kemarin. Inti dari status yang dia tulis adalah, kok bisa orang yang Cuma lulusan SMP jadi menteri? Mau dibawa kemana Negara ini? Apa yang akan dia jawab kalau anak dia nanti menanyakan buat apa sekolah lulusan tinggi-tinggi, kalau untuk jadi menteri saja cukup lulusan SMP saja?

Membaca tulisan itu gue sedikit sakit hati. Sakit hati karena si teman gue itu menghina dan merendahkan orang yang Cuma lulusan SMP. Kenapa gue sakit hati? Karena ayah gue, atau yang biasa gue panggil dengan sebutan Bapak, itu sama seperti ibu Susi. Bapak gue juga Cuma lulusan SMP. Sama seperti ibu Susi, Bapak gue sudah bersekolah SMA namun tidak melanjutkan sampai selesai. Jadi hanya ijazah SMP yang dia pegang untuk meneruskan hidupnya.

Gue ingin bercerita sedikit mengenai Bapak gue.

Bapak gue tidak melanjutkan SMA sampai selesai bukan karena tidak mau. Tapi tuntutan hidup yang membuat dia harus mencari uang sedini mungkin untuk bertahan hidup. Karena ijazah yang dia punya hanya ijazah SMP, maka dia pun bekerja sebagai buruh pabrik di salah satu pabrik di Tangerang. Di tempat yang sama, akhirnya dia dipertemukan dengan seorang wanita yang kemudian menjadi jodohnya. Mamah gue.

Tahun-tahun berlalu, mereka akhirnya kemudian menikah dan mempunyai dua orang anak. Singkat cerita, mereka pindah ke rumah Mamah gue di Serang dan meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh pabrik di Tangerang. Di tempat baru, Bapak gue mulai mencari pekerjaan baru. Seiingat gue, sudah puluhan pekerjaan dia lakoni, dari buruh pabrik lagi, sampai cleaning service hotel , asal bisa menghidupi keluarganya. Bahkan pernah menganggur tidak bekerja sekian lama. Yah, memang, pekerjaan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang Cuma punya ijasah SMP saja?

Meskipun gaji pas-pasan, tapi dia tetap ingat untuk membelikan gue mainan robot-robotan dan mobil-mobilan seperti anak lainnya. Kalau dipikir sekarang, entah sekeras apa dia bekerja dulu demi membahagiakan anak-anaknya.

Tahun berganti, Bapak gue diterima jadi pegawai honorer di salah kantor kedinasan pemerintah daerah. Namun pegawai honorer itu pekerjaannya adalah penjaga malam. Semacam security tidak resmi yang menjaga kantor setelah tutup dari malam hingga pagi hari. Seingat gue, pekerjaan itulah yang paling lama dia lakoni dibanding pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Mungkin hampir 5 tahun. Gue masih ingat, ketika bulan puasa, gue mengayuh sepeda gue jam 4 pagi ke kantornya untuk membangunkan dia supaya bisa sahur bareng di rumah.

Waktu berjalan, akhirnya berita baik tiba juga. Bapak gue dihapus status pegawai honorernya dan diangkat sebagai Pegawai Negeri SIpil. Gue sekeluarga sangat bahagia waktu itu. Tapi ternyata, status PNS tidak membuat pekerjaannya berubah. Kantornya tetap mempekerjakan dia sebagai penjaga malam. Namun dia tetap sabar.

Setelah hampir setahun lebih, baru akhirnya pekerjaan Bapak gue berubah menjadi pekerjaan kantor biasa di siang hari. Tapi itupun hanya pekerjaan sebagai pramubakti. Menyiapkan ruang rapat dan membereskan kembali setelah selesai. Kemudian berpindah sebagai supir yang menyetiri dokter-dokter keliling ke seluruh puskesmas di pelosok yang ada di kota gue.

Tahun-tahun pun berlalu. Work hard pays off eventually. Meskipun bukan menjadi pejabat eselon, tapi posisi Bapak gue di kantornya menjadi lebih baik sekarang. Beberapa kali menjadi pimpinan proyek yang dikelola oleh kantornya dan dikenal baik oleh para pejabat Rumah Sakit maupun Dokter karena keuletannya bekerja. Bahkan dibanding teman-teman sekantornya yang selevel, Bapak gue telah mampu membeli sebuah kendaraan roda empat.

Gue masih ingat ketika gue masih kuliah, gue datang ke kantornya karena ada surat yang harus diurus. Dengan bangganya dia memperkenalkan gue dan kampus tempat gue kuliah kepada teman-temannya. Yah mungkin ada sedikit rasa sombong, namun gue bisa membaca, kalau dia hanya ingin menunjukkan bahwa anak dari seorang ayah yang lulusan SMP bisa berkuliah di salah satu universitas Negeri terbaik. Bahkan anak dari bosnya saja belum tentu bisa.

Dan gue pun masih ingat dengan jelas, bagaimana teman-temannya dulu meremehkan dan memandang sebelah mata, ketika gue baru lulus sma dan ditanya mau kuliah dimana? Dan gue jawab mau masuk UI.

Meskipun Cuma lulusan SMP, namun dia tidak pernah menyerah untuk bekerja.

Meskipun Cuma lulusan SMP, namun tidak pernah sedikitpun dia bilang ke anaknya, “Nak, kamu jangan sekolah tinggi-tinggi. Kalau mau sukses, yang penting kerja keras.” Enggak sedikitpun dia bilang begitu. Malah dia yang mensupport gue untuk sekolah di sekolah terbaik dan setinggi-tingginya.

Meskipun Cuma lulusan SMP, tapi kini dia jadi orang yang cukup disegani baik di kantornya maupun di lingkungan rumah.

Dari dia gue belajar, bahwa kerja keras itu akan ada balasannya. Mungkin tidak sekarang, tapi pasti nanti akan ada saatnya.

Just because someone’s education is lower than ours, it doesn’t mean we may insult and underestimate him/her and also they can’t be great people.

Meskipun setelah gue dewasa gue kadang suka berdebat dengannya, karena sama-sama keras kepala. Tapi setiap kali gue butuh bantuan, gue pasti menelepon dia.

Mungkin karena dia laki-laki, kasih sayang yang dia tunjukkan berbeda dengan yang mamah gue tunjukkan. Tapi gue tahu, bahwa kasih sayang dia kepada anak-anaknya, sama besarnya dengan mamah gue.

Happy Father’s Day, Pak. You’re my real hero.

marriage : year one

Tanggal 27 Oktober setahun yang lalu, hari di mana gue menjabat tangan seorang laki-laki, dan berjanji kepadanya untuk menjaga anak perempuan pertamanya di sepanjang sisa usia gue. Gak terasa hari ini genap setahun usia pernikahan gue dan istri.

Pernikahan sangatlah berbeda dengan masa pacaran.

Kalo diibaratkan perjalanan, pacaran itu seperti naik arung jeram. Sangat bersemangat sekali ketika akan menaikinya. Teriak-teriak senang dan bergembira ketika perahu melaju kencang. Sedikit takut ketika perahu menemui jeram. But overall, naik arung jeram itu menyenangkan. Kadang kala, perahu kita terguling dan kita pun tercebur ke dalam sungai. Bahkan ada yang sampai terhanyut cukup jauh, meskipun akhirnya selamat dengan kondisi badan lecet-lecet terkena hantaman batu kali yang terjal. Namun satu hal yang pasti, kita gak akan pernah kapok untuk mencoba dan mencoba lagi ber-arung jeram. Selalu mengiyakan ketika ada yang mengajak lagi.

Namun kekurangan arung jeram adalah kita tidak bisa berlama-lama menaikinya. Maksimal 6 jam. Waktu ideal antar 3-4 jam. Karena ketika terlalu lama, perjalanan yang pada awalnya menyenangkan, akan berubah menjadi melelahkan. Ketika naik arung jeram lebih dari 5 jam, kita pun akan bertanya, kapan perjalanan ini akan berakhir? Dan naik arung jeram tidak bisa membawa kita berjalan jauh. Lama perjalanan kita hanyalah sepanjang sungai. Ketika sungai sudah menemui lautan, tidak mungkin bisa menempuh jarak yang jauh hanya berbekal perahu karet dan dayung saja. Continue reading

10 Kolam Renang Dengan View Terkeren

Kalau traveling, gue lebih senang untuk berwisata ke pantai dibanding ke gunung, meskipun kedua jenis tempat itu menawarkan sensasi yang berbeda. Kenapa pantai? Karena gue bisa berenang di lautan yang luas. Apalagi kalau nemu pantai yang view-nya cakep dan indah banget. Pasirnya putih, air lautnya hijau, dan banyak terumbu karang serta ikan warna-warni. Beuh, bawaannya pengen berendam dan berenang seharian aja sambil nonton matahari terbenam.

 Tapi berenang di pantai ada kekurangannya. Kelamaan berendam di air asin bikin kulit kering. Paling enak sih berenang di kolam renang. Tapi kebanyakan pemandangan kolam renang selalu monoton. Meskipun sekarang banyak kolam renang dilengkapi dengan permainan ataupun seluncuran/water slide yang bermacam-macam bentuknya, tapi tetap aja pemandangannya adalah kompleks kolam renang yang monoton.

Nah,karena alasan-alasan tadi, berkelanalah gue di dunia maya sekedar mengumpulkan list mana aja sih kolam renang yang unik, dengan view yang keren, dan bikin mupeng untuk nyobain berenang di sana.

 So, inilah 10 kolam renang dengan view terkeren versi dendiriandi.com. cekidot! Continue reading

5 menit untuk 5 tahun.

Masa kampanye telah selesai. Besok memasuki masa tenang. Yang gak suka selama beberapa minggu ini timeline dipenuhi sama politik, silahkan bernafas lega. Dan mungkin kalian pun bertanya, kenapa sih gue (dan mungkin beberapa teman lainnya) mau capek2 berkampanye di social media. Itu kedua capres sodara bukan, kenal aja enggak. Nanti kepilih pun, gak akan berpengaruh sama hidup kita.

Selama ini mungkin kita terlalu lama dibuai oleh pemerintahan yang gak bisa membuat banyak perubahan untuk kita. Sehingga kita menjadi apatis dengan yang namanya politik dan pemerintahan.

Tapi pemilihan presiden kali ini berbeda. Gue bisa bilang, siapa Presiden berikutnya akan bisa menentukan bagaimana gue hidup 5 tahun nanti atau seterusnya.

Mungkin gue terlalu naif. Tapi gue masih punya impian bahwa kita punya…..

Presiden dan Pemerintah yang bisa memperbaiki ekonomi.
Kalo ekonomi membaik, harga2 bisa turun. Istri gue kalo belanja bisa lebih murah dan dapet banyak. Harga susu dan makanan buat anak gue nanti mungkin bisa lebih murah.
Syukur2 pemerintah bisa menaikkan gaji juga, (khususnya untuk PNS dan pensiunannya) supaya Bapak gue bisa pensiun dengan tenang nantinya.
Kalau ekonomi membaik, investor akan berbondong2 ke Indonesia. Akibatnya Harga dollar bisa turun. Yang paling peka sama harga dollar itu ya harga elektronik. Apa hubungannya harga elektronik? Karena gue masih butuh beli komputer/laptop buat gue atau anak gue nantinya. Gue masih butuh beli kulkas, rice cooker dan mesin cuci buat istri gue.
Kalau ekonomi membaik, inflasi bisa turun atau minimal laju inflasi gak terlalu tinggi. Kalo inflasi turun, namun gaji gue gak naik banyak, artinya duit gue yang cuma bisa tabung di deposito, masih sedikit ada harganya.

Presiden dan Pemerintah yang bisa memperbaiki sistem pendidikan.
Kalo sistem pendidikan baik, gak akan ada lagi sekolah yang komersialisasi pendidikan. Anak gue nanti bisa bersekolah dan kuliah sama seperti jaman gue dulu, bersekolah di tempat terbaik bukan karena kaya tapi karena memang lulus tes.
Kalo sistem pendidikan bener, gak akan ada lagi TK yang uang masuknya lebih dari biaya kuliah, bahkan sampai pakai tes segala.
Anak gue gak akan stress sama yang namanya UN. Gak akan ada lagi cerita soal UN seperti soal2 kuliahan. Ataupun ketika UN ada masalah, gue butuh Menteri yang bisa kasih solusi, bukan menafikan keluhan para siswa.
Mudah2an pemerintah yang baru juga bisa menaikkan gaji guru sehingga gak ada lagi guru2 yang masih mencari duit sanpingan dari kantong-kantong orang tua siswa.

Presiden dan Pemerintah yang bisa memperbaiki jaringan komunikasi.
Gue memang butuh akses informasi yang bisa melindungi anak gue nanti dari pengaruh pornografi, itu gue setuju banget. Tapi gue gak butuh menkominfo yang masih bertanya “internet cepat buat apa?”
Gue butuh internet cepat dan murah buat membantu pekerjaan gue agar lebih cepat. Karena internet sudah jadi kebutuhan sehari2.
Internet cepat untuk temen2 gue yang kerja di agency.
Internet cepat untuk adik2 mahasiswa untuk mencari bahan jurnal, bahan kuliah atau data skripsi.
Internet cepat untuk ibu2 yang mau belajar masak lewat youtube atau jualan online shop di social media.
Atau internet cepat untuk kita semua yang sekedar exist di social media.

Presiden dan Pemerintah yang bisa mempermudah birokrasi.
Kalo birokrasi mudah, maka ngurus dokumen apapun kita akan merasa nyaman. Gak takut lagi duit kita dikorupsi sama pegawai pemerintahan atau para calo yang berkeliaran di sekitar tempat pembuatan dokumen.
Sehingga akhirnya kita bisa mengurus surat2 tanpa perlu ngedumel karena pelayanan petugas yang gak ramah, sopan dan lelet.

Presiden dan Pemerintah yang bisa membuat sistem transportasi yang lebih baik.
Sebagai orang yang tinggal di kota pinggiran jakarta dan bekerja di jakarta, gue butuh seorang Presiden, MenHub dan Mendagri yang bisa memecahkan kerasnya kepala para gubernur antar propinsi supaya bisa bekerja sama membangun moda transportasi terintegrasi antar kota dan propinsi yang modern dan cepat. Sehingga tidak perlu lagi bermacet2an ria, menghabiskan berjam2 di jalan untuk berangkat dan pulang kerja. Itu kebutuhan gue.
Bagi orang lain yang tinggal di daerah, mungkin butuh jalan yang mudah ketika mereka pulang kampung.
Daendels saja, ratusan tahun lalu sudah bisa membangun jalan raya dari Anyer ke Panarukan.
Ratusan tahun kemudian, pemerintah kita belum ada yang bisa membuat jalan tol terintegrasi dari Anyer hingga Panarukan. Gue butuh jalan yang bagus, sehingga bisa mengantarkan gue dengan cepat ke jogja, surabaya, semarang dan kota-kota lainnya. Untuk sekedar pulang kampung ataupun sekedar traveling. Lagi2 karena tidak adanya yang bisa meredam keegoisan para kepala propinsi atas nama otonomi daerah.

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal besar yang harus diurus Presiden dan Pemerintah yang baru. Kesehatan warga miskin, pembangunan merata di luar jawa, sumber daya listrik yang stabil di daerah2, pendidikan yang merata bagi anak2 di luar jawa dll. Tapi kalian pasti bilang itu gak ada pengaruhnya bagi saya.

Siapapun calon presiden yang teman2 pilih nanti, semoga harapan untuk perubahan negara ini ada juga di diri kalian. Karena kalau tidak, berarti kalian memang memilih untuk hidup begitu-begitu saja. Pasrah dengan keadaan. Jangan golput, pilih 1 atau 2, itu hak kita semua.