The Other Side of Me You Didn’t Know

“Den, kok elo tuh beda jauh banget ya antara di kantor dengan di Twitter?” suatu kali seorang teman kantor bertanya kepada gue.

“Beda jauh gimana maksud lo?” gue masih belum mudeng maksud pertanyaannya. Gue bertanya-tanya dalam hati, apakah klo di Twitter avatar gue mirip Brad Pitt sedangkan kalo sedang di kantor berpakaian kerja gue lebih mirip Tom Cruise? *sediain ember ke pembaca* *siapa tahu mau muntah*

“Kalo di kantor kayaknya lo tuh serius dan pendiem banget, kalo di Twitter kok kayak gitu ya?”  lanjutnya.

“Kayak gitu begimane maksud lo?” tanya gue semakin penasaran.

“Ya gitu deh. Kayak berkepribadian ganda.” Lalu dia memalingkan wajahnya, menatap ke arah jendela bis yang sedang membawa kami kembali ke Jakarta. Di luar sana tetes hujan membasahi jendela. Drama banget ya?

Gue lalu terdiam. Bisu seribu bahasa. Padahal bahasa yang gue kuasai cuma tiga. Entah sisanya dari mana.

Beribu pertanyaan berputar di otak gue. Kenapa Dian Sastro pergi meninggalkan gue dan menikah dengan pria lain? Kenapaaaa??? *plaaak* *ditampar supaya sadar* *eling Den, eling* Continue reading

Advertisements

HIMYM*

Keringat bercucuran dari seluruh tubuhku. Udara siang hari yang cukup panas membuatku malas melangkahkan kaki ke arah antrian pemeriksaan paspor itu. Sebenarnya aku lebih menyukai perjalanan malam hari. Selain udara malam yang sejuk, di malam hari aku bisa tertidur tanpa harus berkali-kali melirik jam tangan, menghitung sudah berapa lama perjalanan dan berapa lama lagi akan sampai. Tapi apa boleh buat, perjalanan antar negara ini tidak ada jadwal malam hari. Semuanya perjalanan dilakukan pada siang hari.

 Selesai urusan keimigrasian, bus yang kutumpangi kenbali berjalan lagi. Setelah tiga hari berada di Vietnam, akhirnya aku menyebrang perbatasan juga. Menuju Kamboja.

 Sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat di Vietnam. Kota Ho Chi Minh terbilang cukup sepi. Seluruh museum dan tempat wisata sudah habis kukunjungi. Sebenarnya masih ada kota yang belum kukunjungi, yaitu Hanoi. Namun sayang, kota itu terlalu jauh, berada di ujung utara Vietnam. Jika ditempuh dengan perjalanan darat, butuh waktu 4 hari pulang pergi. Jatah cutiku bisa habis tak terasa. Jika ditempuh dengan pesawat, cukup menguras kantong dan membuatku bangkrut. Continue reading

Review Film Battleship

Kata orang, winners never quit, quitters never win. Maka, setelah kegagalan membuat review film dalam tulisan sebelumnya, kali ini gue akan mencoba lagi membuat review tentang film yang baru saja gue tonton. Yeah! *mengepalkan tangan ke udara*

Jadi beberapa hari yang lalu, setelah beberapa lamanya, akhirnya gue nonton film di bioskop lagi. *ngelap ingus* *tanda terharu*. Nama bioskop dan dengan siapa gue nontonnya, gak penting dibahas di sini. Film yang gue tonton berjudul Battleship. Walaupun ada kata “Bat”-nya, tapi ini bukan sekuel dari film Batman. *ya menurut loo??*

Battleship ini sebenarnya adaptasi dari sebuah game, genre-nya board game lebih tepatnya. Kalo gak salah, dulu waktu gue masih muda dan lucu, gue pernah mainin game ini di PC. Jadi kita taro kapal kita di semacam papan berpetak, dan menembak area musuh tanpa tahu dimana lokasi kapal musuh berada. Semacam main catur, tapi lawan kita gak kelihatan. Bingung ngebayanginnya? Sama gue juga. Pokoknya ya gitu deh. *gak niat banget buat ngejelasin*

Cerita dibuka dengan seorang gadis yang sendirian dan kesepian di rumah. Lalu datang seorang pria. Lalu mereka masuk ke kamar. Eh tunggu……sepertinya gue salah film.

Ehmm…oke fokus.

Cerita dibuka dengan percobaan dari NASA untuk melakukan kontak dengan planet lain. Mereka mengirimkan sinyal melalui satelit. Di sisi lain, dua bersaudara Stone Hopper (Alexander Skarsgad) seorang komandan AL AS dan adiknya Alex Hopper (Taylor Kitsch) sedang merayakan ultah di sebuah bar. Lalu datanglah Sam (Brooklyn Decker) yang lagi kelaparan dan pengen chicken burrito. Sam ini pake kaos ketat setengah you can see dan celana hotpants. Pokoknya sexy banget. Rasanya gue pengen deketin dia terus bawain selimut, jaga2 aja siapa tahu dia kedinginan. Badannya montok abis, padet berisi sekaligus menonjol di sana sini. Maklum doi *jiaaah doi, bahasa 90-an banget* adalah model swimsuit AS. Kalo ngeliat betapa sexy-nya Sam ini, gue rela menghabiskan waktu menemani dia berenang di Pantai Hawaii seminggu penuh. *digebukin yang baca*

Sampe mana tadi? Oh iya, kemudian si Alex demi bisa berkenalan dengan si Sam, rela mencuri Chicken Burrito di supermarket. Tapi ditangkap polisi, setelah berhasil menyerahkan chicken burrito ke si Sam. So sweet banget. *iya tau, kebanyakan basa basi, padahal reviewnya belum mulai*

Nah, karena kelakukan si Alex yang slengean, walaupun si Alex bukan seorang Slanker dan gak pernah nonton konser sambil bawa2 bendera Slank, kakaknya Stone memaksa dia masuk ke AL AS. Cerita berlanjut setelah Alex jadi anggota AL AS. Saat itu ada eksebisi latihan perang AL dari 14 negara yang namanya RIMPAC di perairan Samudera Pasifik, Hawaii. Di tengah eksebisi, ternyata ada 5 kapal alien yang menuju bumi. Namun satu pesawat kecelakaan dan jatuh di Hongkong. Kenapa harus jatuh di Hongkong? Kenapa gak di Indonesia atau Namibia? Jangan tanya gue, cuma sutradara dan penulis scenario yang tahu. Sementara 4 pesawat lainnya jatuh di laut pasifik, di tengah2 eksebisi RIMPAC ini. Gila, kebetulan banget ya? Coba kalo jatohnya di Pantai Selatan samudera Hindia, pasti si pesawat alien ketemu sama Nyi Roro Kidul. *oke, abaikan komentar gak penting ini*

Lalu dimulailah perang antara Pesawat Luar Angkasa dari si alien yang super canggih dengan kapal perang dari para peserta RIMPAC. Satu persatu kapal dihancurkan dan yang tersisa tinggal kapal yang dikomandoi oleh Alex Hopper ini. Alex yang slengean, sekali lagi walaupun dia bukan slanker, harus diuji kepemimpinannya untuk mengalahkan alien yang berbentuk seperti manusia kadal dan pesawat luar angkasanya yang super canggih. Adegan dan strategi perang di lautan yang lumayan keren banyak diperlihatkan di film ini, iya, walaupun gak sekeren gue sih. *dirajam berjamaah sama yang baca*.

Sepanjang film, si Sam selalu berpakaian sexy yang menonjolkan lekuk dadanya. Beberapa kali iman gue digoda, membuat gue selalu mengelus dada. *dadanya si Sam* *diceburin di samudera pasifik*

selain si Sam, pemain wanita di film ini juga ada Rihanna. Iya, Rihanna si penyanyi Umbrella itu.  Ella…..Ellaa… Nurlella…..janda muda…sakit kepala…jadi kecewa ……mikirin pacarnya…oouuuwwowowooooo.

Endingnya udah bisa ketebak. Pada akhirnya jagoan selalu menang dan gak pernah mati. Jagoan yang pernah mati itu Cuma Son Gou Ku di film Dragon Ball. Walaupun akhirnya dia bisa kembali ke bumi untuk ikut turnamen Tenka Ichi Budokai dan berantem melawan Iblis Bhu. Ya ya ya…gue tau gue ngelantur kemana2. Tapi minimal akhirnya gue bisa menyelesaikan review sebuah film dengan lengkap.

Ini film action yang tujuannya menghibur, jadi gak usah peduliin plot, karakter, cerita, scenario atau keganjilan apapun. Nikmati aja, seperti nikmatnya bisa memeluk Agnes Monica. Oke, sekian review dari gue.

Oh iya lupa, bagi kalian yang belum nonton, mending jangan baca review ini, karena banyak spoiler. *telat woiii* *dijitak* *dirajam berjamaah*.

-dendiout-

Ter-“jatuh” di Bromo

“Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate.”

Kereta melaju kencang di sepertiga malam. AC yang bertiup menambah dinginnya udara malam hari. Kompartemen kereta dari Jakarta menuju Malang yang gue tumpangi tiba-tiba berderak dan berguncang hebat. Gue terbangun oleh derit roda kereta yang beradu dengan rel kereta yang terdengar sangat keras. Gue lihat jam tangan. Jam satu dini hari. Penumpang di sekitar gue masih meringkuk dengan nyaman di selimut mereka. Guncangan keras itu sama sekali tak mengganggu tidur mereka.

Tiba-tiba mata gue tertumbuk pada seorang pria. Seorang pria yang sedang duduk. Dari jendela kereta dia terus melihat gue. Gue bertanya dalam hati, “siapa dia?”. Rasanya wajahnya sangat familiar. Namun rasa kantuk membuat gue tertidur kembali.

Derak laju kereta lagi-lagi membangunkan gue dan lagi-lagi gue melihat pria itu. Menatap gue dari jendela kereta. Ah, siapa sebenarnya pria itu? Pria itu mempunyai wajah cukup tampan dengan dengan memakai jaket warna hitam. Gue mencoba melemparkan senyum. Kemudian dia langsung membalas senyum gue.

DEG.

Sesaat setelah dia melemparkan senyum, jantung gue berhenti. Pria itu tersenyum dari balik jendela kereta, sedangkan kereta ini sedang berjalan, artinya pria itu duduk di luar kereta ini.

Gue lalu berjalan menuju gerbong kereta makan. Mungkin sebatang rokok bisa sedikit menyadarkan otak gue dan bisa menebak siapa pria yang menatap gue dari jendela kereta itu. Gue mengambil sebatang rokok dari kantong jaket dan langsung menyalakannya. Jaket hitam yang gue pakai ternyata sangat mirip sekali dengan jaket yang dipakai oleh pria tadi. Tapi siapa dia? Dan bagaimana bisa dia duduk di luar jendela kereta yang sedang berjalan?

Gue coba memandang ke luar jendela dari kursi gerbong makan yang gue duduki.

ANJRIITT!!

Gue berteriak hingga hampir terjatuh. Begitu kepala gue menoleh ke arah jendela kereta lagi. gue melihat lagi pria berwajah tampan itu dengan memakai jaket hitam sedang menatap gue. Dia duduk di luar kereta sana sambil menatap gue. Mukanya tidak tersenyum seperti tadi. Tapi sedikit tegang dan pucat seperti baru saja melihat hantu.

Gue perhatikan baik-baik dari ujung rambut hingga tubuh bagian pinggang yang tidak terhalang oleh jendela. Rambutnya berdiri, jaket hitam, wajah tampan, dan terselip sebatang rokok di tangan kirinya. Sungguh mirip sekali dengan gue.

Gue terus menatap matanya dan dia juga menatap balik ke mata gue. Otak gue coba mencerna siapa pria di balik jendela kereta itu? Apakah gue pernah mengenalnya? Kenapa bsia mirip sekali dengan gue?

Butuh waktu sekitar 3 menit sebelum akhirnya gue sadar kalau pria di balik jendela kereta itu ternyata……………………………….. bayangan gue sendiri. *dirajam sama yang baca*

***

Pukul sepuluh pagi kereta sampai di Malang. Dari Malang gue melanjutkan perjalanan menuju daerah Tumpang untuk mencari mobil jeep yang akan mengantarkan gue menuju kawasan Bromo.

Dan seperti traveling-traveling yang sebelumnya gue lakuin, sesampainya di Bromo, gue “jatuh” untuk kesekian kalinya.

Bromo ternyata Indah. Pemandangannya cantik.

Jika Tuhan adalah pelukis yang Agung, maka dia adalah pelangi di lagu itu. Ehmm, maksud gue, maka Bromo adalah kata lain dari pelangi.

A Hopeless Romantic Woman

Travel is...Travel is figuring out that you are braver than before.

Travel is wondering there’s a world outside every darkened door.

Travel is falling a sleep on a bus and letting the bus driver take you anywhere until the last stop.

Travel is waking up earlier then you use to be and getting ready for today’s adventure.

Travel is enjoying sunset somewhere far away from home.

Travel is turning your head to the wind.

Travel is living life to the fullest, because life is like a road you travel on.

Travel is falling in love… with God, for any creatures you see along the trip.

Travel is waiting for surprise you may get in every journey.

Travel is planning for the next destination.

Travel is hunting for something you can bring home for the one you care about.

Travel is being somewhere that make you say “wish you were here’.

Travel…

View original post 448 more words

Review The Raid

Oke, udah lama gak ngereview film.

kali ini geu mau review salah film Indonesia yang lagi happening., yaitu The Raid.

gue usahain gak akan ada spoiler.

ini posternya:

Image

 

ok, mari dimulai reviewnya:

berantemnya KEREN. plotnya, kurang. tapi itu bukan hal penting.

sekian dan terima jodoh dengan suka hati.