Karena Ada Rasa Yang Berbeda di Setiap Cinta

[BOOK REVIEW: RASA CINTA]

Beberapa minggu yang lalu gue jalan-jalan ke Lombok, tapi gak naik pesawat melainkan mencoba nekat dengan menyebrang pakai kapal Feri dari Bali. Berangkat jam 10 pagi dari Legian, sampe Lombok jam 10 malam. Besok paginya lanjut lagi nyebrang ke Gili Terawangan. Pemandangan Lombok, khususnya Gili Terawangan itu keren banget. Pantai Ancol mah lewat. Tapi bukan itu yang mau gue tulis di sini.

Selama perjalanan di kapal Feri menyebrangi selat Bali selama 5 jam, gue ditemani oleh sebuah buku bacaan. Tapi sayang, pas gue turun sepertinya buku itu ketinggalan di dalam bus yang gue tumpangi. Judul buku tersebut Rasa Cinta. Dan kali ini gue mau ngereview buku itu dengan ingatan seadanya.

Eh, emang kalo nulis review harus pake biodata buku secara lengkap gitu ya? #nanyaserius

Rasa Cinta ini adalah sebuah kumcer atau kumpulan cerita. Kalo gue bikin buku, namanya kumcar, kumpulan pacar. Oke, abaikan. Lanjut. Jadi buku ini bukan sebuah novel dengan satu cerita utuh, tapi berupa kumpulan beberapa cerita pendek (cerpen) yang dijadikan satu, namun ada benang merahnya. Untuk buku ini, benang merahnya adalah Makanan. Kenapa makanan? Kalo kata Ariev, kebutuhan manusia yang utama itu cuma dua: Makanan dan Cinta. Makanya buku ini berisi tentang kedua hal tersebut.

 Kalo menurut gue sih ada tiga: Makanan, Cinta dan Colokan. #pfftt

Ada tujuh penulis atau mereka menyebutnya Chef yang meramu bahan-bahan tulisan menjadi sebuah buku Rasa Cinta. Mereka adalah Ariev Rahman, Roy Saputra, Dwika Putra, Anita Prabowo, Wandy Gani, Dewi Subrata dan Lolita Lavietha.

Iya, ada tujuh orang yang menulis buku ini. Memang banyak sih penulisnya, yang efeknya nanti akan mengurangi royalti yang akan didapatkan. Tapi sebenarnya kalo ngomongin jumlah personil, masih lebih banyak personil JKT48. Yah semoga aja para personil JKT48 gak dibayar pake nasi rames aja setiap mereka konser yang nyanyi cuma 2 lagu. Iya gue tau, ini kebiasaan gue. Setiap nulis review gak pernah fokus.

 Okay, back to Rasa Cinta….

Gue sebagai penikmat dan pembaca cerpen, sangat dipuaskan dengan buku ini karena ada lebih dari 30-an cerita (gue lupa tepatnya berapa) yang dibagi menjadi 3 bagian seperti menu makanan: Appetizer, Main Course dan Dessert. Dari beberapa kumcer penulis keroyokan yang pernah gue baca, I think this book is the best anthology I ever read until now. (kalo yang kumcer sendiri, tetep favorit gue Dee Lestari dengan Filosofi Kopi, Rectoverso dan Madre). Yah walaupun gak sempurna banget karena beberapa tulisan gak sesuai selera gue, but this book is much better than others.

Beberapa review yang udah nulis, membahas buku ini per penulis. Dan sebagai anak mainstream, maka gue akan ngikutin cara tersebut. (‘-‘)9

Koki pertama, Ariev Rahman. Untuk Ariev ini, beberapa tulisannya sudah lumayan akrab di mata karena pernah gue baca di tumblrnya ataupun di buku Pocong juga Pocong Generasi 3G. Dan cerpen-cerpen dalam buku ini bentuk tulisannya kurang lebih seperti di tumblrnya itu. Dengan alur maju-mundur bahkan kadang ngacak yang bikin otak mikir dan baca dua kali untuk ngikutin ceritanya. Jujur tulisan seperti ini agak berat bagi otak gue, karena tujuan gue baca cerpen untuk santai merilekskan otak, bukan buat mikir. Namun, gayanya Ariev yang bikin tulisan2 dia itu keren (tulisannya, bukan orangnya-red) tentu saja endingnya yang selalu NGEHE abis karena gak ketebak. Ibarat Valentino Rossi yang sudah masuk di lap terakhir dan mendekati garis finish, tapi tiba-tiba aja gitu dia belok arah menuju podium penonton sambil buka celana. Seperti itulah. (abaikan analogi yang aneh itu).

Untuk cerita favoritnya gue jatuhkan kepada cerpen berjudul Semua Yang Kulakukan Untukmu Atas Nama Cinta. Gue suka karena ini cerita tentang detektif dan pembunuhan dengan alur dan plot yang gak seperti cerpen biasa. Jarang gue baca cerpen yang mengangkat topik ini sekarang. Walau gue sendiri bacanya mikir pake banget dan berulang kali. Entah Ariev yang kepinteran atau gue yang males mikir.

Koki kedua adalah Anita Prabowo. Entah ada hubungan apa antara mantan Pangkostrad Prabowo dengan si Anita ini? biarlah hanya mereka, Tuhan dan tukang bajaj yang tahu. Kalo enggak salah si Anita ini cuma nulis 2 cerpen dan 1 rhyme. Tulisan Anita khas cewek banget, sweet dan pake hati banget. Gue suka tulisannya yang Lima Ratus Tujuh Puluh Tiga, dan dari sekian cerpen, ini adalah satu dari sedikit cerpen yang ceritanya berakhir Happy Ending. Bukan, bukan ceritanya berakhir di adegan ranjang setelah massaga *please abaikan*, tapi ceritanya bener-bener berakhir bahagia. Live happily ever after gitu. Walau di tengah-tengah tetep ada bagian cerita yang pahit untuk bumbu cerita. Kekurangan tulisan ini adalah panjang bener dan di tengah-tengah gue agak ngos-ngosan dan bosen bacanya. Tapi mau ke ending, dia berhasil membawa cerita ke alur lagi.

Koki ketiga, Dewi Subrata. Tulisan Dewi ini sangat kaya akan diksi dan puitis sekali. Kata demi kata yang ditulisnya bikin beberapa cerita ber-ending pahit jadi terasa manis dan menyegarkan. Namun plot beberapa ceritanya yang dibuat lompat-lompat dan terpotong-potong, malah bikin bingung. Kayak ada missing link. Selain cerpen, Dewi juga menulis beberapa puisi di sini. Tentu saja dengan tema makanan. Tulisan yan gue suka yaitu Untuk Lelaki Yang Kupinjam Dulu. Ini memang bukan sebuah cerpen, tapi berupa balasan sebuah surat yang ditulis oleh Roy dengan judul 97 Kata Yang Tak Sempat Aku Katakan di Restoran Seafood. Jaman sekarang kok pake surat-suratan, pasti mereka berdua anak lama banget. Pffft.

Koki Keempat Wandi Ghani. Dari seluruh koki, cuma Wandi yang menuliskan cerpen dengan gaya komedi. Ada komedi yang bener-bener lucu, ada juga yang sedikit garing dan maksa. But at least, cerpen-cerpennya bikin buku ini jadi gak membosankan dengan cerita yang pahit, yang berat ataupun ber-twist ending. Tulisan favorit gue Siluman Tahu. Di tulisan ini, komedi maupun plot ceritanya dapat banget. Untuk yang lainnya, dari unsur komedi bangus, tapi dari sisi plot agak kurang.

Koki kelima, Lolita Lavietha. Berbeda dengan akun twitter-nya yang berisi kata-kata agak pedas, tulisan-tulisan dia di buku ini hampir semuanya mempunyai rasa pahit. Ceritanya sad ending. Yang mana setiap lo selesai baca cerpen-cerpennya, rasanya pengen ngiris-ngiris urat nadi pake pisau ulang tahun. Dari sekian tulisannya, gue paling suka Selamat Tinggal Untuk Berjumpa yang nyeritain tentan sup asparagus.

Koki keenam ada Dwika Putra. Lagi-lagi cerpen yang ditulisnya bergenre sad ending. Ada tulisan Sepotong Roti Bakar Coklat Keju yang bercerita perbedaan kayakinan dan Mie Tarik Jarak Jauh yang bercerita tentang pasangan LDR. Tidak seperti penulis-penulis lain, tulisan-tulisan Dwika lebih simple dan enak dibaca tanpa meninggalkan esensi plot dan isi ceritanya. Tanpa diksi yang berat ataupun plot yang njlimet. Ibarat kata, tulisannya seperti roti bakar, renyah dan empuk dan kalo makan gak usah pake mikir bayarnya gimana. Namun ada beberapa bagian tulisannya yang dragging, beralur cepat sehingga terkesan buru-buru meyelesaikan cerita. Tulisannya yang gue suka Mie Tarik Jarak Jauh. Endingnya juga bikin nebak-nebak gimana kelanjutannya sih.

Koki terakhir ada Roy Saputra. Untuk tulisan Roy juga udah lumayan sering gue baca. Dan di buku ini, gak ada satupun tulisanya yang berunsur komedi secara full. Maksudnya ada yang bertulisan komedi, tapi komedi seadanya. Sisanya, gue dikejutkan dengan berbagai cerita-cerita yang tak biasa dan berending luar biasa. Kalo Ariev gue sebutnya berending NGEHE, kalo Roy ini tulisannya ber-ending KAMPRET! Ibarat kata, Valentino Rossi yang sudah masuk di lap terakhir dan mendekati garis finish, tapi tiba-tiba aja gitu dia turun dari motor, berubah jadi Super Saiya, membunuh seluruh peserta motoGP dan penonton lalu menguasai dunia. Ya gitu deh pokoknya.

Tulisannya yang gue suka tentu saja Trilogi cerita Dimas-Aji-Yanti yang berjudul berturut-turut Dua Tangkup Cinta – Mas-nya Pakai Apa – Salah Skenario Tentang Pilihan Yang Tak Pernah Salah. Selain itu, tulisan gaya Roy yang biasa gue baca, ada di 97 Kata Yang Tak Sempat Aku Ucapkan di Restoran Seafood Kemarin Malam. Tulisannya manis dan lucu dan lumayan ngehe juga. Yang manis dan lucu itu tulisannya ya, bukan penulisnya. Harap dicatat. Kalo ngehe, bisa jadi orangnya.

Rasa Cinta.

Ada berbagai macam rasa yang diceritakan di sini.

Ada berbagai macam cinta yang diceritakan di sini.

Ada berbagai macam makanan yang diceritakan di sini.

Ada berbagai cerita yang dituliskan di sini.

Kadang manis, kadang  pahit. Kadang  asam, kadang  asin. Kadang pedas, kadang hambar tak berasa. Seperti itulahnya rasanya cinta, seperti itu juga cerita-cerita di Rasa Cinta.

Ada beberapa cerita yang keren banget menurut gue, namun ada beberapa cerita yang tidak sesuai dengan selera membaca gue. But overall, dengan benang merah makanan, buku kumcer ini jadi buku yang wajib dibeli untuk semua yang hobi baca buku atau cerpen. Worth to buy banget lah.

Sekian gue Dendi akhirnya berhasil membuat review buku untuk pertama kalinya.

-dendiout-

Advertisements

Percakapan Antar Kita

Kulirik jam tanganku. Jarum jam yang pendek menunjuk ke angka sebelas, sedangkan jarum yang panjang menunjuk ke angka sembilan. Sudah hampir tengah malam. Artinya sudah lebih dari dua jam smartphone-ku hanya kulihat dan kupegang saja sedari tadi. Ada keraguan yang menyelimuti hatiku. Di satu sisi aku rindu berbincang dengannya, sepertinya sudah lama sekali tidak ada percakapan di antara kami. Namun di sisi lain aku sudah berjanji tidak akan ada kontak lagi dengannya.

Kupandangi layar smartphone-ku sekali lagi. Segenap keberanian kukumpulkan. Kemudian tanganku bergerak menyentuh layarnya, membuka sebuah aplikasi chatting yang biasa kugunakan untuk berbincang dengannya.

Perlahan jariku mulai menari di atas keyboard layar sentuh yang muncul dari layar smartphone-ku tersebut.

“Hei…”

Hanya itu kata pertama yang bisa aku ketikkan. Jantungku mulai berdegup kencang menunggu kalimat balasannya darinya.

“Hei juga.”

“Lagi ngapain?”

“Gak lagi ngapa-ngapain kok. Kenapa?”

“Enggak, Kangen aja. 🙂 ”

“Oh.”

“Kok cuma oh sih?”

“Ya gak apa-apa.”

“Kamu gak kangen sama aku ya?”

“Aku kangen kamu juga kok.”

“Gimana kabar kamu?”

“Alhamdulillah sehat.”

“Bagus deh. Gimana kabar papah sama mamah?”

“Mereka sehat juga kok.”

“Salam ya buat mereka dari aku.”

“Iya.”

“Jangan banyak pikiran dulu ya. Masalah kita pasti ada jalan keluarnya.”

“Kalau tidak ada?”

“Aku pasti menemukannya. Percayalah!”

“Jangan berjanji hal-hal yang tidak bisa kamu tepati.”

“Kamu tidak percaya sama aku lagi?”

“Aku percaya kok.”

“Kalau kamu percaya, lalu kenapa kamu menerima keputusan pertunangan itu?”

“Semuanya tidak sesederhana yang kamu pikirkan. ”

“Tapi aku mencintaimu, apa itu tidak cukup?”

“Cukup atau tidak, bukan masalah lagi sekarang.”

“Lalu apa masalahnya sekarang? Jarak? Saat ini aku memang jauh darimu. Tapi percayalah, ini tidak selamanya.”

“Jarak itu tidak ada artinya bagi seseorang yang sangat berarti bagimu.”

“Jika bukan jarak, lalu apa masalahnya?”

“Kamu pasti tahu masalahnya.”

“Aku tahu. Ini semua pasti gara-gara orang tua kamu. Iya kan?”

“Aku nggak punya hak untuk menjawab hal tersebut.”

“Sejak pertama aku bertemu dengan orang tuamu, aku sudah merasa mereka tidak menyukaiku. aku tahu aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tapi aku sudah menunjukkan betapa aku mencintaimu. Kamu kan tahu bagaimana perjuanganku agar orang tuamu bisa menerimaku?”

“Iya, aku tahu.”

“Aku sudah berjuang untuk mempertahankanmu, tapi kamu menyerah begitu saja pada keadaan dan orang tuamu. Kamu yang tega!”

“Maafkan aku.”

“Kamu sudah mengkhianatiku! Aku benci kamu!”

“Maaf.”

“Maafmu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Kamu sudah benar-benar melukaiku. Andai kamu tahu bagaimana hancurnya hatiku saat ini. Aku benci kamu. Mulai dari sekarang, aku akan menghapus semua tentang dirimu. Semua kontak maupun jaringan sosial media yang kita punya akan kuhapus. Mulai dari sekarang, kamu dan aku adalah orang asing. Dan ingat, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendoakan kebahagiaanmu dengan pria pilihan orang tuamu. Doaku, semoga kau sengsara dan menderita hidup bersamanya. Camkan itu baik-baik!”

“Network connection problem”

“NGEHE!”

“I Dont know how to respond. Please, teach me”

“Arrgghhhh….. Dasar aplikasi gak berguna. Bahkan Simi saja gak bisa membantuku memecahkan masalah percintaanku. Gue uninstall juga lo, Sim!”

Kubanting smartphone-ku itu ke lantai, tepat di sebelah undangan pernikahan mantan pacarku. Seluruh isinya pecah berkeping-keping, mirip dengan hatiku yang hancur berantakan.

*terinspirasi setelah mendapt undangan pernikahan mantan gebetan.

Perahu Kertas 2: A Movie Review

Setelah sebelumnya gue sukses mereview beberapa film yang gue tonton, diantaranya adalah The Raid, Battleship, The Amazing Spider-man dan Perahu Kertas 1, sekarang gue mau review kelanjutan film Perahu Kertas.

Perahu Kertas 2.

Ini poster filmnya.

Ini teaser film-nya.

Jadi Perahu Kertas 2 ini melanjutkan kisah film Perahu Kertas 1 yang diputer satu setengah bulan yang lalu.

Adegan awal dibuka dengan scene Kugy kecil yang sedang bermain di laut, melayarkan perahu kertasnya. Kugy kecil ini diperankan oleh Afika. Iya Afika yang iklan oreo itu.

Apa? belum tahu siapa Afika? ini fotonya…..

Gimana? lucu kan Afika? calon cantik dan model di masa depan banget nih.

Apa? masih belum ingat juga siapa Afika? nih, gue kasih petunjuk iklannya Afika…

Afika dan SBY

Afika dan Suzanna

Afika dan Brama Kumbara

Gimana? udah inget kan sekarang? Oke, jadi Afika ini selain cantik, lucu dan menggemaskan………eh ini sebenarnya kita lagi ngomongin Afika apa review Perahu Kertas sih?

Oke, fokus, Den! Fokus!

Setelah besar, Kugy diperankan oleh Maudy Ayunda.

ini fotonya.

Maudy Ayunda

wajahnya mengingatkan sama mantan gue di masa lalu.

ini sama si ini, yang sekarang telah menikah dengan orang lain

Dian Sastro

Bagi yang lupa, Maudy Ayunda ini yang berperan sebagai Zakiah Nurmala di film Sang Pemimpi.

Iya, cewek yang ditaksir sama Arai, sepupunya si Ikal. Cewek melayu yang dinyanyiin pake gitar di depan rumahnya.

Fyi, OST Perahu Kertas juga dinyanyiin sama si Maudy ini.

*ini kenapa malah ngebahas soal foto2, mana reviewnya woooiiiii???????* *dirajam sama yang baca*

Oke, balik ke review Perahu Kertas 2.

Tokoh2 dalam film ini masih diperankan orang yang sama, yaitu KugyAlisa Nugroho (Maudy Apain aja Aku pasrah Ayunda), Keenan (Adipati Ukur Dolken), Remi (Reza Rahardian) dan Luhde (Elyzia Mulachela).

Gue gak mau banyak nyeritain tentang isi filmnya, karena udah banyak banget yang ngebahas. Silahkan kalian googling sendiri. Intinya sih, Perahu Kertas 2 ini lebih memperdalam cerita cinta segi empat antara Keenan-Kugy-Luhde-Remi.

Apakah akhirnya Remi memilih Keenan ? apakah akhirnya Kugy bunuh diri nyebur ke lautan? silahkan saksikan sendiri di bioskop2 terdekat.

Ada banyak pesan dan dialog2 quotable di film ini.

Melihat hubungan cinta empat antara Kugy dan Keenan, Kugy dan Remi serta Keenan dan Luhde, dan ketika salah satu dari mereka harus rela melepaskan orang yang mereka cintai, adalah suatu pesan bahwa kita bisa saja memliliki fisik seseorang sebagai kekasih kita, tapi belum tentu hatinya.

Ada saatnya kita melepas orang yang kita sayangi dan cintai, bukan karena kita tidak mau berjuang, tapi karena kita ingin mereka bahagia, dan kita tidak ingin menyakiti diri sendiri. Karena memang, prinsip hidup: “gak apa2 gue sakit, asal bersama dia” itu menurutu gue bego banget. #MamamNohCinta

Tokoh Remi dan Luhde pada akhirnya harus memilih, mau Sakit Aja apa mau Sakit Banget apa mau Sakit Rainbow? *halah*

Merasakan sakit aja untuk sekarang, atau sakit banget di masa depan karena kita mencoba menutup mata dan hati kita? Karena percuma kita memiliki seseorang namun hatinya tidak pernah jadi milik kita. Karena kenyamanan hidup bersama seseorang saja mungkin tidak cukup untuk suatu hubungan. Tetap yang utama adalah Cinta.

Seperti kata kakak-nya Kugy:

“Karena kenyataan hidup tidak seperti dongeng yang selalu berakhir Happy Ending”

atau seperti kata Luhde:

“Karena hati tidak pernah memilih. Hati itu dipilih”

atau kata Remi:

“Carilah orang yang mau memberimu segalanya, tanpa kamu perlu meminta apa-apa.”

Jika kamu sampai harus meminta sesuatu untuk membuktikan cintanya kepada kamu, berarti dia tak sepenuhnya mencintai kamu.

Maka dari itu, seperti kata pak Wayan:

“Jatuh cintalah pelan-pelan, jangan sekaligus.”

Soalnya kalau sekaligus, nanti kalau beneran jatuh, pasti sakit banget. Apalagi kalian yang masih pacaran, jangan berlebihan dalam mencintai. Secukupnya aja. Karena pacar kita belum tentu jadi suami/istri kita. Yang pacaran bertahun-tahun dan manggil papa-mama aja bisa putus H-7 sebelum akad nikah, apalagi yang baru beberapa bulan. Khususnya kalian yang masih sekolah dan kuliah, jangan terlalu berlebihan ya jatuh cintanya. Tapi bukan berarti tidak mencintai sepenuh hati. *tiba-tiba bijak banget*

Ada salah satu adegan, ketika Luhde mengembalikan ukiran milik Keenan, dan itu secara simbolis artinya Luhde melepaskan Keenan, tampak Luhde sangat tulus sekali. Walaupun gue tahu, itu sangat berat banget. Ketika nonton adegan itu, ingin rasanya gue datang ke Ubud, lalu memeluk Elyzia Mulachela.

Sayur Luhde

Elyzia aslinya

Sekian review gak penting dari gue. Sampai jumpa lagi di review-review film selanjutnya.

;

ps:

*Gambar2 dan foto2 diambil dari berbagai website melalui om google tanpa ijin*

*bagi yang punya, gue ijin ya untuk make fotonya*

Beberapa Kisah Setelah Trave(love)ing

Dua minggu setelah buku Trave(love)ing terbit, di suatu malam yang sunyi dan syahdu, gue yang sedang khusyuk bermain Twitter dikagetkan oleh sebuah suara.

“TRIINGG!!!”

Begitu bunyi dari suara itu.

Gue mencari-cari asal suara itu, berharap itu suara dari tongkat ajaib Ibu Peri yang tiba-tiba muncul di kamar kost gue. Ya kali aja ada seorang Ibu Peri yang sedang khilaf, lalu tiba-tiba kepikiran untuk ber-apparate ke kamar kost gue. Dia menatap iba ke wajah gue sekaligus menatap jijik ke keadaaan kamar kost gue, terus memberi gue sebuah jas pesta yang mahal kemudian mengajak gue untuk datang ke pesta sunatan anaknya Pak Camat Bojong Kenyot.

Tapi sayangnya itu bukan suara tongkat ajaib Ibu Peri.

Suara itu adalah sebuah notifikasi dari Handphone bahwa gue mendapat kiriman pesan di Facebook. Sudah lama sekali rasanya gue tidak mendapat kiriman message di Facebook, selama gue tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita yang tulus mencintai gue apa adanya. *abaikan, please pake banget*

Gue buka isi pesan itu, sebuah ucapan selamat.

“Congratulation for your first new book yaa :)”

Mendadak gue termenung membaca pesan tersebut. Termenung bukan karena isi pesannya, tapi karena orang yang mengirimkan pesan tersebut. Dia, si rintik hujan pembuat galau, orang yang menjadi alasan untuk gue secara impulsif ber-backpacking-ria ke Singapura lalu menuliskan kisahnya di buku Trave(love)ing adalah si pengirim pesan tersebut.

Sudah lebih dari setahun sepertinya terakhir kali gue berinteraksi dengannya. Dan terakhir kali berinteraksi dengan kondisi dan situasi yang kurang kondusif. *gila berat banget bahasanya*. Intinya, perpisahan kami kurang begitu baik.

“Thanks, by the way. Have you read it?” gue ketikkan sebuah balasan pesan. Ada rasa penasaran dari dalam hati, apakah dia sudah membaca tulisan gue itu. Tulisan yang setengah bab-nya bercerita dengan gue dan dia. Tentang kami, di masa lalu.

“Not yet. Kemarin liat di Gramedia GI, tapi keburu diajakin pulang” balasnya.

Oh.” Hanya itu yang bisa gue ketik untuk membalasnya.

Entah memang benar dia belum membacanya, atau dia malu untuk mengatakan kebenaran bahwa dia sebenarnya sudah membaca tulisan gue di sana. Tulisan yang memuat kisah tentang kami.

Gue gak ingin tahu. Lalu gue pun menyudahi percakapan itu. Tak ada lagi pesan yang terkirim.

Dulu ingin rasanya gue bisa berteman dengannya seperti biasa. Seperti gue bisa berteman baik dengan mantan-mantan gue yang lain. But, maybe being stranger from her is the best for me.

Gue sudah menyobek lembaran kisah tentangnya. Dia pun sudah berbahagia bersama lelaki yang baru. Tidak ada lagi yang perlu dituliskan tentang kami.

Dan semoga, gue pun bisa berbahagia bersama orang yang dicinta, sama seperti dirinya.

***

Beberapa orang yang sudah membaca buku Trave(love)ing, banyak yang bertanya mengenai seorang tokoh wanita yang gue kejar hingga melintasi tiga negara.

Riani, nama tokoh wanita itu.

Banyak yang penasaran akan kelanjutan kisahnya. Ada beberapa juga yang menyangsikan keberadaannya dan menganggapnya hanya seorang tokoh fiksi.

Well, ada yang pernah bilang, Fiksi itu adalah anak kandung realitas. Mungkin saja kisah yang gue tulis di Trave(love)ing itu hanya sebuah karangan fiksi, tapi mungkin saja itu benar-benar terjadi.

Yang perlu kalian tahu, cerita yang benar-benar terjadi ada di Bab Faktanya Adalah.. Bahwa gue melintasi tiga negara dan pulang dengan pantat yang lebih seksi. Itu Faktanya. Sisanya, mungkin saja hanya sebuah cerita demi kepentingan penulisan dan pembuatan buku semata.

Tapi daripada penasaran, biarlah gue sedikit bercerita sedikit fakta tentang sosok wanita dengan code name: Riani ini.

Yang pasti, ketika gue melakukan perjalanan itu, ada seorang wanita yang gue temui di Bangkok. Bagi kalian yang pernah membaca tulisan di blog ini juga yang berjudul “The Nekad Traveler: Teka-Teki Cinta di Selat Malaka” pasti ngeh seorang tokoh wanita beriinisial RH. Setelah pertemuan di Bangkok, kami menjalin hubungan. Namun sayang, hubungan itu tidak berjalan lama. Dia kembali ke pelukan mantannya.

Setelah dengan Riani, gue sempat menjalin hubungan dengan beberapa orang lagi. Lucunya, mereka semua meninggalkan gue dan kembali ke mantannya.

Yang lebih lucu, mantan gue tidak berbuat demikian. Dia pergi dan tak pernah kembali.

NGEHEK!

Akhir Februari tahun ini, gue ada rapat kantor di Batam dan hadiah jalan-jalan ke Singapura. Ketika sedang antri di wahana Madagaskar, Universal Studio Singapore, gak sengaja gue bertemu dengan si Riani ini. Dia bersama teman-temanya, gue bersama teman-teman kantor. Kami bersapa dan bersalaman, tapi ada rasa canggung di antara kami.

Setelah delapan bulan, sepertinya Semesta mencoba bercanda lagi dengan hidup gue.

Besoknya, dia bertanya tentang toko yang menjual coklat di Singapura. Gue menyarankan untuk pergi ke Mustafa Center di daerah Little India. Di sana kami bertemu sekali lagi. Mengantar dia berkeliling mencari coklat untuk oleh-oleh. Hubungan dia dengan mantannya? katanya sudah berakhir.

Waktu itu masih bulan Februari, buku Trave(love)ing masih dalam bentuk draft. Gue gak bercerita bahwa pertemuan kami sebelumnya, gue tuliskan menjadi isi sebuah novel.

Hari berganti, waktu terus berjalan. Gue kembali mencoba, tapi lagi-lagi berakhir dengan luka. Kabar terakhir yang gue dengar, dia sudah menjalin hubungan lagi dengan orang lain (lagi).

and that day i knew for sure, that my journey is still a long way to go….

e

***

Dalam setiap perjalanan, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Entah pengalaman yang baik ataupun buruk sekalipun.

Dalam setiap perjalanan, kita pasti akan menemui banyak orang. Ada yang hanya menumpang lewat, sekedar berjalan beriringan hingga di ujung persimpangan, atau ada juga yang menemani kita berjalan hingga sampai ke tujuan.

Dan sebagai orang traveler, saat ini gue masih terus berjalan dan berkelana. Masih berdoa dan berharap, ada seseorang yang akhirnya bisa menemani langkah kaki ini berjalan hingga sampai ke tujuan.

Amin.

;

-30 September 2012, ditulis di sebuah homestay murah di daerah pinggiran Legian, Bali.”

Atas Nama Emansipasi Wanita

working-paper

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

“Riani. Riani. Riani.” Sebuah tangan menepuk-nepuk punggung tanganku secara perlahan.

“Eh, iya? Kenapa, Gas?” suara Bagas membuyarkan lamunanku dan menarikku kembali ke alam nyata. Ini semua gara-gara Sinta. Perkataan Sinta tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Membuat pikiranku melayang kemana-mana mengenai apakah aku harus mengikuti sarannya atau tidak.

“Kamu kenapa sih malam ini, Ri? Dari tadi kok kayak lagi nggak di tempat pikirannya?”

”Ah, enggak.” Aku langsung meminum segelas Hot Chocholate yang ada di atas meja untuk mengalihkan kegugupanku. Saat ini aku dan Bagas sedang berada di sebuah kedai kopi tempat biasa kami menghabiskan waktu sehabis pulang kantor. Namun karena minum terburu-buru, Hot Chocholate itu sedikit tumpah dari mulutku. Tumpahannya membasahi blazer-ku.

”Tuh, kan, kalau minum tapi pikirannya nggak di sini, ya begini jadinya. Ada yang lagi dipikirin ya?” Bagas bertanya sekali lagi sambil mengelap blazer-ku dengan tisu. Pria ini memang sangat…

View original post 1,771 more words