Ramalan Tahun Baru

“Saya ingin diramal pakai Tarot,” ucapku kepada wanita yang berdandan ala gipsi itu. Wanita itu mendongakkan kepalanya ke arahku dari tempatnya duduk, menatap tajam namun kemudian tersenyum penuh arti.

“Boleh, silakan duduk!” ucap wanita gipsi itu sambil mengambil setumpuk kartu tarot dari kotak peralatannya. “Ingin diramal mengenai apa? Kehidupan, karir, atau percintaan?” lanjutnya lagi. Dengan perlahan dia mulai mengocok kartu-kartu Tarot yang ada di genggaman tangannya.

Entah apa yang ada di pikiranku, tiba-tiba saja aku tergerak untuk singgah di sini. Sebuah kios ramal tarot dan garis tangan yang berada di belakang Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua adalah tempatku duduk sekarang. Dengan hanya beralaskan selembar spanduk bekas dan peralatan sederhana, si ibu paruh baya yang berdandan ala suku Gipsi ini membuka usaha jasa ramalnya.

“Eh….anu, saya ingin diramal mengenai acara tahun baru nanti malam, Bu.”

“Acara tahun baru? Maksudnya?” Si ibu peramal itu mengerenyitkan dahinya.

“Nanti malam saya punya dua acara tahun baru di tempat yang berbeda dan dengan dua orang yang berbeda. Saya sedang bingung harus memilih yang mana.”

“Terus?”

“Dua-duanya adalah wanita yang saya sukai. Jalan bersama salah satunya di acara tahun baru nanti, mungkin menjadi awal hubungan saya dengan salah satu dari mereka. Saya takut salah pilih, Bu. Untuk itu saya minta diramalkan sebenarnya saya berjodoh dengan yang mana.”

“Zodiak kamu Gemini ya?”

“Iya. Kok Ibu tahu sih?”

“Hmm, sudah labil, tidak mau kehilangan fans lagi. Hih” gumamnya pelan.

“Apa Bu?”

“Eh, enggak, gak apa-apa” Ibu peramal masih terus mengocok kartu-kartu Tarotnya. “Baik, kita mulai saja. Sekarang kamu ceritakan kepada saya mengenai kedua wanita yang kamu sedang bimbang memilih yang mana.”

“Eh, saya harus cerita semuanya ya?”

“Saya ini peramal, bukan ahli membaca pikiran. Gimana kartu tarot ini bisa membantumu menentukan pilihan yang tepat kalau kamu tidak menceritakan permasalahan kamu. Kartu Tarot bekerja sesuai dengan jawaban-jawaban yang kamu ucapkan nantinya.”

“Oh gitu. Ya udah, saya mulai cerita ya bu.”

“Iya. Buruan cerita!”

‘Eh, tapi ibu punya blog atau twitter gak?”

“Emangnya kenapa?”

“Kalau punya, janji ya cerita saya nanti jangan ditulis di blognya ibu atau sampai dijadiin bahan tweet kayak teman-teman saya.”

“Saya enggak punya blok atau tuiter atau apapun yang kamu sebut tadi. Udah buruan, cerita!”

“Wanita pertama bernama Lisa,” aku mulai bercerita. “Kami sudah kenal sejak lama. Dia adalah junior saya waktu kuliah dulu. Waktu kuliah dulu kami tidak begitu dekat, hanya kenal begitu saja. Beberapa bulan yang lalu seorang teman, yang juga temannya mencoba menjodohkan kami berdua. Katanya karena kami sama-sama single dan sama-sama sedang mencari pasangan. Siapa tahu memang berjodoh.”

“Lalu?”

“Lalu saya mulai mendekatinya. Kami sempat berjalan beberapa kali, nonton bioskop, makan, ya hal-hal umum yang sering dilakukan pasangan yang sedang pedekate.”

“Dia pendek dan kate? Itu yang buat kamu bingung?”

“P-D-K-T, Bu, akronim dari Pendekatan. Bukan si cewek ini pendek dan kate.”

“Oh, lagi pendekatan. Di jamannya ibu namanya masa penjajakan.”

“Kayak mau ke puncak aja istilahnya penjajakan. Pake gigi 1 atau 2 tuh?”

“Itu penanjakan. Udah terusin ceritanya!”

“Eh iya, sampe mana tadi? Dia gak pendek. Malah dia tinggi dan cantik.”

“Terus, kenapa masih bingung?”

“Saya bingung dengan sikapnya. Dia selalu mau diajak jalan sama saya, tapi selalu menjaga jarak. Itu yang buat saya bingung tentang perasaannya sama saya. Nah, di saat lagi bingung-bingungnya sama Si Lisa ini, saya kenal dengan seorang wanita lagi. Namanya Mona.”

“Coba ceritain tentang si Mona ini.”

“Kalau Mona ini kenal sebulan yang lalu lewat twitter.”

“Apa itu tuiter?”

“Jaring media sosial di internet. Dia salah satu followers saya dan sering mention saya. Lalu berlanjut ke private-message. Dua minggu yang lalu akhirnya kami ketemuan.”

“Terus kalian makan dan nonton di bioskop?”

“Kok Ibu tahu sih?”

“Ya taulah. Itu kan hal-hal umum yang sering dilakukan pasangan yang sedang pedekate.”

“…….”

“Oke, terus?”

“Bu, boleh nanya?”

“Iya kenapa?”

“Sebelum jadi peramal, ibu mantan tukang parkir ya?”

“Kok tahu?”

“Dari tadi ngomongnya terus melulu.”

“Udah lanjutin ceritanya!”

“Mona tidak secantik Lisa. Tapi dia sepertinya lebih menyukai saya. Dia lebih perhatian kepada saya dibanding Lisa. Jika dengan Lisa saya terus yang memulai telepon atau BBM, sedangkan Mona selalu yang lebih dahulu menghubungi saya.”

“Ya sudah, pilih saja Mona.”

“Tapi saya lebih menyukai Lisa.”

“Karena dia lebih cantik?”

“Ya enggak juga sih. Kalau sekedar cantik, tidak cukup membuat saya jatuh cinta.”

“Lalu apa?”

“Sikapnya Lisa itu yang membuat saya merasa tertantang untuk menaklukinya. Sedangkan Mona, karena dia yang mengejar-ngejar saya, membuat tidak ada tantangan lagi.”

“Kalau mau tantangan ikut Fear Factor aja, tidur sama sepuluh ribu kecoa Afrika atau makan telur bebek yang udah setengah jad bayi. Jangan sama wanita.”

“Nah, maka dari itu saya ke sini Bu. Saya bimbang. Saya ingin diramal sebenarnya dengan siapa saya berjodoh? Saya takut salah mengambil keputusan. Dengan siapa saya jalan malam tahun baru nanti, menentukan dengan siapa saya harus menjalin hubungan di tahun 2013 nanti.”

“Hmm…” Si ibu peramal itu lalu menaruh tujuh kartu Tarot di atas alas tempat kami duduk. Ketujuh kartu Tarot itu dalam posisi terbalik. “Ambil satu kartu!” ucap si Ibu peramal itu kemudian.

Lalu aku mengambil kartu yang paling tengah kemudian memberikannya dengan perlahan. Si ibu peramal membaca kartu yang aku pilih tadi.

“Apa yang kamu rasakan ketika bersama Lisa?” Matanya kini beralih dari kartu Tarot menuju mataku.

“Hmmm, apa ya? Deg-degan. Kadang enggak tahu harus ngomong apa.”

“Kalau bersama Mona?”

“Kalau sama dia sih rasanya tenang. Nyaman.”

“Sekarang ambil lagi satu buah kartunya.” Si Ibu Peramal lalu menaruh kartu yang tadi dibacanya. Ada gambar kuda di balik kartu itu.

Perlahan aku mengambil kartu kedua dari kanan. Kuserahkan ke si ibu peramal itu.

Mata si ibu peramal kini terbelalak. “Kamu sudah bertanya ke mereka berdua tentang acara malam nanti?”

“Sudah. Saya sudah mengirim BBM ke mereka berdua.”

“Lalu, siapa yang menjawab?”

“Mona. Dia belum mengiyakan, tapi katanya aku akan dikabari nanti. Sedangkan Lisa, jangankan dijawab, dibaca saja tidak. BBM-nya masih bertuliskan D sampai sekarang.”

“Lalu, kenapa kau masih bertanya ke saya meminta diramalkan jika kau sendiri sudah tahu jawabannya.”

“Ya untuk lebih yakin aja. Jaga-jaga juga jika ternyata Lisa menjawab pesan saya.”

“Dasar laki-laki! Ya udah segera kamu lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan.”

Aku memandang ke arah si ibu peramal. Mencari tahu maksud di balik kata-katanya. Segera kuambil handphone Blackberryku, kubuka aplikasi messenger bawaan Blackberry. Kuketikkan huruf L dan kuarahkan ke arah kontak bernama Lisa. Kedua jempolku dengan cepat mengetikkan beberapa kata.

“Hei, Lis. Mengenai ajakanku jalan di tahun baru tadi, aku batalkan ya. Sorry, aku jalan sama teman-temanku.” Segera kupencet enter dan pesan tersebut langsung terkirim.

Beberapa detik kemudian, Blackberryku bergetar. Ada pesan masuk. Ah, cepat sekali Lisa membalasnya. Kubuka BBM-ku lagi. Ternyata bukan Lisa, tapi pesan tersebut dari orang lain. Pesan dari Mona.

Kubaca perlahan BBM dari Mona itu.
“Hei, Ndre. Mengenai ajakanmu jalan di tahun baru tadi, maaf sepertinya aku gak bisa ikut kamu. Sori ya, soalnya aku jalan sama teman-temanku.”

Kuarahkan pandanganku ke si ibu peramal, dia cuma tersenyum lalu berkata, “Kalau butuh teman untuk malam tahun baruan, saya free kok malam ini.”

Aku cuma bisa membalas perkataannya dengan tersenyum. Kecut sekali.

Advertisements

2012

Pada saat mengetik ini, gue sedang menikmati keheningan di malam yang syahdu dan sunyi. Langit sangatlah gelap, tak ada bintang yang bersinar dan sang purnama bersembunyi tertutupi awan yang kelabu semenjak siang tadi. Hanya ditemani sebatang itu dan secangkir ini untuk menahan kantuk yang mulai mendera, kebiasaan lama yang sudah lama tidak pernah gue lakukan lagi.

Gue pun coba menengok sekali ke belakang. Menghitung jejak kaki yang selama setahun ini pernah terjalani. Membentangkan kenangan hingga jauh beberapa tahun lagi kebelakang. Mencoba mengingat lagi, setiap tempat yang pernah gue singgahi, setiap jalan yang pernah gue lewati, setiap mahluk yang pernah gue jumpai, setiap cinta yang pernah terukir, serta apa saja yang telah teraih dan apa saja yang telah menghilang.

Semuanya terputar dalam sebuah film hitam putih tanpa suara di dalam otak gue.

Jika tahun-tahun sebelumnya gue banyak mengalami kehilangan, tahun ini mungkin tahun banyak mendapatkan sesuatu.

Di 2012 ini gue mendapatkan sahabat baru dan sebuah buku hasil menulis bersama.
Trave(love)ing: Hati Patah, Kaki Melangkah.

20121231-101727.jpg

20121231-101902.jpg

Ketidaksengajaan karena kegagalan ikut trip rombongan, malah mempertemukan gue dengan teman-teman traveling baru yang seru.

20121231-102031.jpg

20121231-102345.jpg

Resolusi Desember 2011, karena membaca buku Life Traveler-nya Windy Ariestanty membuat gue secara impulsive, lagi-lagi berjalan sendirian backpacking ke Vietnam-Kamboja.

20121231-102515.jpg

Kita tidak pernah tahu kapan cinta itu datang, dan tidak kuasa menahannya ketika harus pergi. Namun ketika cinta itu datang, pastikan hatimu terbuka untuk menyambutnya. Karena tidak ada yang lebih indah selain memiliki seseorang yang bisa menerimamun apa adanya.

20121231-102639.jpg

So, Goodbye 2012, welcome 2013. Wish I have another great adventures next year.

I see you soon Rinjani Mountain!!!

Radio

Minggu kemarin gue mengajak adek gue jalan-jalan. Well, kami gak jalan-jalan pake kaki literally, tapi naik mobil. Mobil yang kami naiki pun mobil gue, bukan mobil Ferrarinya Dahlan Iskan yang berbahan listrik dan berharga 1,5 miliar.

By the way, itu kalau mobil listrik sudah dipasarkan secara massal, Power Bank-nya segede apa ya? Kan pasti kita butuh Power Bank tuh, ya untuk jaga-jaga kalau di tengah jalan kehabisan batere dan gak nemu SPBU Listrik. Power Bank untuk handphone aja ukurannya hampir sama dengan handphone-nya.

Gue ngebayangin 5 tahun yang akan datang, ketika mobil listrik baru aja booming, terjadi percakapan seperti ini:

A : Bro, cekidot nih mobil baru gue. Ferrari listrik, Man!

B : Wah keren, pake listrik. Tapi itu kok mobil Ferrarinya narik kontainer di belakangnya? Ferrari apa truk gandeng tuh?

A : Weits, jangan ngehina dulu, Bro. Itu Power Bank, batere cadangan buat jaga-jaga kalo listriknya abis.

B : Terus, kalo lo pake buat jalan-jalan ke mall, parkirnya gimana?

A : Ya, gue simpen mobil ini, gue pake mobil yang isi bensin aja.

B : Oke, sip. Lo pinter banget deh.

Anyway, ini kenapa gue jadi ngebahas soal mobil Ferrari listrik? Ok, sampe mana tadi? Oh iya, sampe ngajak adek gue jalan-jalan pake mobil (ini kayaknya baru kalimat pertama deh).

Kesukaan adek gue ini denger musik, kapanpun, di manapun. Pas lagi di mobil, dia minta dengerin lagu dari CD (Compact Disc, bukan Celana Dalam- red). Sementara gue, kalau di mobil lebih seneng dengerin lagu dari radio.

Kemudian gue tanya, “kenapa gak dengerin radio aja? Kan musiknya enak-enak? Lagu-lagu baru?”

“Lagunya kurang suka. Radio itu banyak omongnya, kadang dicampur iklan. Enakan denger musik dari CD, lagunya bisa dipilih,” jawabnya kemudian.

Sepanjang menyetir mobil, gue merenung (karena kalo sambil menjahit susah banget). Kehidupan yang kita jalani ini seperti sedang mengendarai mobil. Namun sayangnya, di mobil kehidupan ini kita tidak bisa memilih lagu apa yang mau kita dengarkan.

Kehidupan ini bukan seperti naik mobil sambil mendengarkan lagu favorit kita dari CD Player. Di mana ketika lagu yang tidak kita tahu atau tidak kita suka diputar, kita bisa men-skipnya ke lagu berikutnya.

Kehidupan yang kita jalani ini, seperti naik mobil sambil mendengarkan radio. Kita bisa dan boleh saja memilih stasiun radio favorit kita, namun kita tidak bisa memilih lagu yang akan diputarkannya.

Terkadang lagu favorit kita diputar berkali-kali. Ada kalanya telinga terpaksa mendengar lagu-lagu galau yang menyayat hati dan membangkitkan akan kenangan pahit masa lalu. Kadang juga, mendengar lagu-lagu yang genrenya tidak kita sukai. Atau lagu yang terlalu sering diputar sehingga menjad eneg mendengarnya. Dan ada suatu waktu, radio tersebut memutar lagu-lagu yang baru pertama kali kita dengar, lalu tiba-tiba saja kita menjadi menyukai lagu itu dan mencari lagu itu (dengan cara beli CD asli atau download MP3 bajakan) untuk didengarkan lagi berkali-kali.

Stasiun radio itu bisa saja bernama Pekerjaan, Hobi, Teman, Kekasih/Istri dll.

Ada beberapa orang yang sepanjang perjalanan terlalu sibuk mencari stasiun radio yang lagunya bisa sesuai dengan telinga mereka, namun perjalanan mengemudinya malah menjadi terganggu.

Sama seperti kesukaan gue mendengarkan radio ketika menyetir mobil, dalam hidup pun gue mencoba menjalankan analogi tersebut. Gue stay-tune di stasiun radio favorit gue, dan mendengarkan lagu apapun yang diberikannya. Ikut tersenyum dan bernyanyi ketika lagunya gue tahu, dan mencoba menikmati saja ketika lagu yang kurang enak didengar terputar.

Karena itu batas kemampuan kita sebagai manusia, berusaha mencari “stasiun radio” yang menurut kita bagus, mengenai “lagu yang diputar” biarlah itu menjadi urusanNya.

Mencoba bersyukur dengan apa yang kita punya, dan bersabar atas apa yang belum ada. Because everthing happens for a reason.