Gak Romantis Kronis

“Mungkin aku, bukan pujangga, yang pandai merangkai kata. Ku tak selalu, kirimkan bunga tuk ungkapkan isi hatiku.”

Sepenggal lirik dari single kedua Base Jam, – sebuah band anak muda yang sangat booming di tahun 90-an- berjudul Pujangga itu tiba-tiba mengalun dari radio di mobil gue. Mendengar lagu ini, tiba2 menggelitik sekaligus menohok hati gue. Iya, karena gue mirip sekali dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Adon dan Sigit itu.

Lirik lagu Pujangga tadi bercerita tentang seorang cowok yang gak romantis yang merasa minder akan kekurangannya. Seperti kita ketahui bersama, bagi para cewek, cowok yang romantis adalah sosok pria yang sangat ideal. Pria idaman semua wanita. Calon suami yang paling utama. Calon menantu disayang mertua. Harapan bangsa. Penyelamat dunia. Pahlawan tanpa tanda jasa. Dan cowok gak romantis itu kebalikannya: cuma butiran debu di padang pasir.

Menurut hemat gue, mungkin aja sebenarnya peraturan tidak tertulis tentang cowok harus romantis itu dibuat oleh cewek. Mungkin di jaman dahulu, ketika sinetron dan acara gossip belum muncul di tivi, para cewek-cewek di planet bumi bingung kegiatan apa yang harus dilakukan ketika menunggu para pria pulang berperang dari medan laga. Lalu mereka memutuskan membuat sebuah Konferensi Tingkat Tinggi. Namanya KTT Wanita Se-Planet-Bumi.  Di KTT Wanita Se-Planet-Bumi itu menetapkan kalo semua cowok itu diwajibkan romantis kepada semua cewek.

Sedangkan kita semua tahu, kalau Konferensi Tingkat Tinggi Pria Se-Planet-Bumi  menghasilkan keputusan bahwa semua cowok itu harus suka sama sepak bola dan nonton bokep.

Selain keputusan “kalo Pria harus bersikap romantis kepada wanita” dan ”Wanita boleh memberikan jawaban “terserah” ketika ditanya mau kemana oleh para pria”, hasil keputusan KTT Wanita Se-Planet-Bumi itu juga menghasilkan beberapa hal penting lainnya, diantaranya adalah:

Wanita ingin dikirimin bunga.
Wanita ingin dibeliin coklat.
Wanita ingin dikasih boneka.
Wanita ingin dinyanyikan lagu cinta diiringi alunan gitar atau piano.
Wanita ingin dibacakan puisi tentang cinta.
Wanita ingin disanjung dan dimanja.
Wanita ingin dibelikan tas, sepatu, baju, alat makeup, mobil, rumah, apartemen, pesawat terbang, Satelit Ulang-Alik, dan batu meteor.
Wanita ingin dibuatkan perahu sebesar gunung sebelum fajar menyingsing
Wanita ingin dibangunkan 1000 candi dalam semalam.
Wanita ingin apapun yang terlihat ”sweet” dan kebetulan tiba-tiba melintas di pikiran mereka tanpa peduli bahwa itu sebenarnya itu susah dilakukan dan bikin si cowok menderita.

Dan rasanya gue yakin, boss-nya Se***ven Ele***ven itu juga pasti seorang cewek yang meminta pembangunan  Se***ven Ele***ven harus bisa terjadi dalam semalam. Sebelas dua belas dengan Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi.

Wanita sadar betul kelemahan para pria.

“A woman will always and also must get what she wants because a man will do anything to fullfil his woman’s dream and make her happy.”

Anyway, balik lagi ke soal cowok romantis.

Cowok yang romantis itu dipuja dan disanjung2 para cewek. Apalagi pas perayaan hari kasih sayang 14 Februari kemarin. Ada yang kasih bunga mawar satu galon, ada yang kasih cokelat import dari Toli-Toli, ada yang kasih boneka dari India, ada yang ngajak makan malam di restoran rasa bintang lima harga kaki lima, dan ada juga yang kirim martabak manis buat orang tua si cewek. Pokoknya all the sweet things that make woman feel so happy.

Dan gue sebagai cowok yang gak romantis seperti di lagunya Base Jam itu, kadang merasa terintimidasi dan seperti menjadi minoritas. Cowok gak romantis itu seperti berdosa besar. Satu level dosanya dengan mandi bareng dengan anak kecoa. Ibarat di Twitter, rasanya elo tuh gak Hestek LakiBanget deh.

Cowok yang gak romantis itu kadang bikin kesel para cewek.

Gue pun teringat curcol-an salah satu temen gue yang seorang Mahmud (Mamah Muda-red) yang mempunyai suami yang tidak romantis. Untuk menjaga nama baik temen gue, kita sebut aja si MahMud ini dengan inisial De-i-a-er.

Suatu waktu dia pernah bertanya ke suaminya ketika mereka masih pacaran dulu:

“Yang, kok kamu gak pernah sms atau telepon aku buat nanyain dan ngingetin makan siang sih?”

“Ya kamu kan gak amnesia. Jadi aku gak perlu ngingetin kan?”

”……”

Begitulah kelakukan seorang cowok yang tidak romantis. Emang ngeselin kan?

Walaupun katanya sifat gak romantis itu susah diubah, bukan berarti gue gak pernah mencoba untuk bersikap romantis kepada cewek. Gue pernah kok.

Suatu waktu, ketika masih berseragam abu-abu, gue pernah mau kasih hadiah Valentine  untuk seorang cewek yang udah lama menjadi incaran gue. Gue membawa setangkai bunga mawar merah. Dengan jantung yang berdebar-debar tidak karuan, gue melangkahkan kaki dengan mantap dari kelas gue menuju ke kelasnya.

Sesampainya di ruang kelasnya, gue deketin dia dan menunjukkan tangkai bunga mawar merah itu di hadapannya.

”Ini untuk kamu, Happy Valentine!” ucap gue dengan senyum yang dipaksakan dan lutut yang sedikit bergetar. Gue nervous akut.

Tiga detik pertama mukanya menunjukkan raut kebingungan. Ada jeda canggung di antara kami berdua. Jantung gue semakin berdetak kencang.

Di detik ke-empat mukanya mulai berubah. Giginya yang putih terpancar dari sela-sela bibirnya yang mungil dan merah. Dia mulai tersenyum.

Di detik ke-lima dia berkata, “Sayang, kamu romantis banget deh mau kasih bunga mawar aja sampe tukang bunganya nganter sendiri ke sini.” Mukanya menoleh ke seorang cowok ganteng yang duduk di sebelahnya,

Di detik ke-enam, si cowok ganteng itu nonjok mata gue.

Di detik ke-tujuh, gue pun trauma kasih bunga mawar untuk cewek.

Selain kasih bunga, gue juga pernah mau nembak cewek dengan mencoba menyanyikannya sebuah lagu dengan iringan gitar. Kenapa dengan gitar? Selain alasan gue gak bisa mainnya, membawa grand piano buat nembak itu susah dan berat. Dan kalo bawa suling, -walaupun sangat enteng-, gak terlihat keren. Anyway, people say playing guitar is a sweet thing and  girls really like it. Cewek akan luluh dengan cowok yang bisa main gitar dan menyanyikan lagu untuk mereka.

Lagu yang mau gue bawain waktu itu adalah lagu yang sedang happening pada jaman gue masih SMA, yaitu J.A.P (Jadikan Aku Pacarmu) dari Sheila on 7. Si gebetan gue ini biasanya makan di kantin belakang pas jam istirahat bersama teman-temannya. Dan rencananya gue mau nembak sambil nyanyiin lagu ini di depan dia dan teman-temannya.

Dengan membawa sebuah gitar gue pun melangkahkan kaki ke arah si cewek ini berada.

Jreeeng. Suara enam buah senar gitar yang gue petik bersamaan mengagetkan dia yang sedang makan bersama teman-temannya. Lutut gue bergetar. Kali ini bukan karena nervous, tapi memang gue belum makan siang dan semalem abis mimpi basah. Jadi lutut gue lemes.

”Rin,” gue berkata kepada cewek itu. ”Ini lagu khusus untuk kamu”

Lalu gue pun mulai bernyanyi. ”Jadikanlah aku pacarmu, kan kubingkai s’lalu indahmu, jadikanlah aku pacarmu, iringilah kisahku….huoooowooo.”

Tiga detik pertama mukanya menunjukkan raut kebingungan. Ada jeda canggung di antara kami berdua. Jantung gue semakin berdetak kencang. Rasanya kok De’javu banget ya?

Di detik ke-empat mukanya mulai berubah. Tangannya dia selipkan ke kantong bajunya. Seperti ada sesuatu yang diambil dari sana. Sementara gue masih bernyanyi dan bermain gitar untuk masuk ke intro lagu dan bridge.

Di detik ke-lima sebuah koin lima ratusan dia sodorkan ke hadapan gue. Giliran gue yang menjadi bengong sekarang.

Di detik ke-enam dia berkata, “Maaf mas, kalo mau ngamen mending latihan vokal dulu deh.”

Di detik ke-tujuh gue trauma main gitar sambil nyanyi untuk seorang cewek.

Sejak saat itu sampai sekarang, kalau menembak cewek, gue selalu spontan. Tidak terencana. Terjadi begitu saja. Pernah di pinggir jalan sambil nyetop angkot. Pernah di kafe kecil pas lagi mati lampu. Pernah sambil angkat-angkat barang bantuin si cewek pindah kosan. Atau lagi iseng duduk sambil ngemil frenchfries.

Alhamdulillah, lebih banyak ditolaknya daripada diterimanya.

Untuk urusan kasih hadiah pun gak pernah kasih sesuatu yang romantis. Biasanya karena mereka yang minta , bukan gue yang inisiatif.

Pernah dulu salah satu mantan gue minta dibeliin boneka. Alih-alih gue pusing nyari di mall, gue beli bonekanya pesen di kaskus. Atau waktu cewek gue minta dikasih bunga mawar. Ketika lagi jalan berdua dan berhenti di lampu merah Blok M, kebetulan ada yang jual bunga mawar. Gue pun langsung beli dan kasihin ke dia saat itu juga. Yeah, i’m very pathetic man.

Untuk para cowok di luar sana yang membaca tulisan ini, gue cuma bisa bilang: menjadi cowok romantis itu baik. Tapi menjadi cowok yang tidak romantis juga tidak sepenuhnya salah. Menyenangkan pasangan itu bagus, namun menjadi diri sendiri dan bukannya memakai topeng di depan pasangan kita demi membahagiakannya itu lebih baik lagi.

Karena yang paling membahagiakan adalah menemukan wanita yang bisa menerima kamu apa adanya. Memaklumi kekurangan kita, bukan kesalahan kita.

And I’m glad that i have found her. 🙂

Reff: “Aku mungkin bukan pujangga, aku mungkin tak selalu ada, ini diriku apa adanya.” –  Pujangga , Base Jam.

ps:

1. Cerita bunga mawar dan gitar hanya fiksi semata. jangan dipercaya.

2. Bunga mawar gak dijual dalam galonan.

Advertisements

Luntang Lantung [A Book Review]

Nam ague, Ari Budiman.

Iya gue tau, nama gue pasaran banget. Bahkan waktu gue mau bikin Twitter aja sampai gak dapet-dapet nama ID, @aribudiman jelas sudah ada yang punya. Mencoba kreatif dengan @budimanari, ternyata sudah ada Ari Budiman lain yang sama kreatifnya kayak gue, Cuma lebih cekatan. Gue coba @ariiii, yang gue sendiri lupa berapa ada berapa i-nya, tetep aja sudah ada yang punya. Akhirnya gue pun menyerah main Twitter. Mending main roller blade.

Paragraf tulisan perkenalan di atas adalah paragraph pembuka dari sebuah buku yang akan gue review kali ini. Setelah sebelumnya gue mereview buku-buku dari si penulis, yang pertama sebuah buku fiksi-komedi berjudul The Maling of Kolor (2008) di sini, dan buku kedua yang ber-genre Pelit (Personal Litterature) berjudul Doroymon (2009) di sini. Sekarang gue mau review buku ketiganya yang juga bergenre fiksi komedi, yaitu Luntang Lantung (2010).

 luntang-lantung

Ya, si penulis tidak lain tidak bukan, Roy Saputra.

Disclaimer: Jangan bayangkan 2 Saputra yang lain: Surya dan Nicolas. Roy ini produk gagalnya.

Luntang Lantung menceritakan tentang seorang Ari Budiman, seorang pemuda bernama pasaran. Ada yang MC kawinan lah, juragan pakan ternak, sampai Ari Budiman Capster Salon. Ari Budiman ini seorang pemuda yang baru saja lulus dari Universitas dan sedang mencari kerja. Dia ditemani oleh dua sahabat baiknya yaitu seorang batak gila yang suka menyanyikan lagu Bangun Pemudi Pemuda yaitu Togar Nasution, dan seorang anak Jawa berlogat medok, bernama Suketi Kuncoro.

Dari pemilihan nama karakternya, ketebakkan kelahiran dan angkatan berapa sang penulis?

Buku ini menceritakan perjuangan seorang Ari Budiman dalam mencari kerja. Entah udah berapa kali tes dan interview dia lakukan, tapi tidak ada yang berhasil. Hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan suatu pekerjaan di sebuah perusahaan bernama Glory Oil. Bukan, walau namanya ada Oil-nya, ini bukan perusahaan minyak, tapi jualan oli. Merek produknya Oli Greng. Dan gimmick “Oli Greeeeng-nya, kakaaak..” yang berulang sukses membuat perut membuncah menahan tawa.

ll1

Cerita berlanjut dimana nama pasaran Ari Budiman malah membuatnya mendapatkan sebuah pekerjaan yang lumayan bonafid.

Selain cerita tentang seputar Ari Budiman mencari dan mendapatkan pekerjaan, buku ini juga bercerita tentang cinta Ari dan Suketi. Bukan, bukan Ari dan Suketi itu gay, tapi maksudnya kisah cinta Ari dengan seorang wanita bernama Bella, dan kisah cinta Suketi dengan seorang wanita bernama Lena.

Seperti halnya kehidupan, kadang terasa manis, kadang terasa asam. Begitulah kisah cinta di buku ini digambarkan oleh Roy yang dianalogikan seperti buah Stroberi. Ada kisah cinta Ari dan Bella yang sweet, dan ada kisah Suketi dan Lena yang terasa asam.

Saking sweet-nya, tokoh Ari Budiman membuatkan sebuah lagu yang berjudul Strawberry Jus, yang terinspirasi dari minuman kesukaan Bella. Begini liriknya:

Tolong jangan anggap aku bawel
I Just want to know you so well
Hatiku cenat cenut
‘Cause you’re looked so good
 
Waktu pertama kita bertemu
Aku ingin tau apa favoritmu
Kau suka jus buah
Yang warnanya merah muda
 
Jus, strawberry jus, strawberry jus
Kesukaanmu
Jus, strawberry jus, strawberry jus
Ku ingin jadi strawberry jus-mu
 
Kau suka rasa asam manis
Badanku bau asam wajahku manis, so like me please
Ku ingin tiap berjumpa
Kupakai merah muda

Seperti dua buku sebelumnya, selalu ada pesan yang sama di setiap bukunya Roy, yaitu tentang persahabatan. Karena sahabat, adalah orang pertama yang akan ada di samping kita (setelah keluarga), bukan hanya ketika kita bahagia, tapi juga ketika mengalami derita. Dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari persahabatan antara Ari, Togar dan Suketi. Dari mulai Togar yang menemani Ari Budiman interview kerja, padahal dia sudah punya usaha bengkel, menyemangatinya untuk dekat dengan Bella hingga Ari dan Togar yang membantu Suketi mencari tahu keberadaan Lena.

Ada satu adegan yang bikin  gue terharu. Begini cuplikannya:

Gue juga ikut menepuk pundak Suketi , yang entah kenapa terasa janggal buat gue. Lima menit yang lalu pundak gue yang ditepuk.

“Lalu apa yang bisa gue dan Togar lakuin supaya lo berasa enakan?” tanya gue.

Suara Suketi terdengar lemah, “Temani aku ya, waktu menjemput Lena di di hotel itu.”

Sahabat, selalu ada dalam suka dan duka.

That’s what friends are for, isn’t it?

Unsur komedi di buku ini kental sekali, gue selalu tertawa di setiap lembarnya, dan selalu kepikiran, “Ini si Roy kepikiran aja bikin jokes yang kayak gini?”.

Selain cerita komedi, cerita persahabatan, dan cerita cinta, nilai plus buku ini juga diselipin sama ilustrasi2 komik yang yahud.

Contohnya kayak begini:

LL2LL4

Overall, cerita komedi di buku ini lebih matang daripada buku pertamanya Roy. Dan gue masih menanti si Roy nulis buku solo fiksi komedi lagi kayak The Maling of Kolor dan Luntang Lantung ini.

Buku ini terbitan 2010, dan katanya udah sold out di hampir seluruh toko buku. Tapi denger-denger sih mau diterbitin ulang. Jadi yang belum sempet baca dan kepengen baca ini bukunya, mari kita amin-kan untuk buku ini diterbitkan ulang lagi.

Ada Amin?