DUBAI: TOP 10 MUST DO’s and DON’Ts

Kata orang, rezeki itu gak akan kemana.

Seperti gue, meskipun bukan buzzer ataupun travel blogger kondang, tapi bukan berarti gak bisa dapet hadiah jalan-jalan gratis ke luar negeri. Alhamdulillah, kantor gue memberikan hadiah jalan-jalan gratisan ke salah satu negeri di timur tengah, yaitu Uni Emirat Arab.

Pertengahan April kemarin, berangkatlah gue ke dua kota di Uni Emirat Arab, yaitu Dubai dan Abu Dhabi.

Cerita bagaimana kehidupan dan orang-orang di Dubai, pernah gue tulis di Twitter. Kalau cerita gue ngapain aja di sana dan ke tempat mana aja, kayaknya udah banyak dibahas di travel-blog orang lain. Supaya postingan ini memberi manfaat bagi nusa, bangsa dan  negara, maka gue mau memberikan tips aja mengenai hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan selama kalian di Dubai.

Here it goes, Dubai: Top 10 Do’s and Don’ts.

Continue reading

Advertisements

Sama atau Beda?

Beberapa minggu yang lalu gue mengikuti sebuah tes bahasa Inggris dalam rangka ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Tes Bahasa Inggris ini terdiri dari 4 bagian, reading (membaca), listening (mendengarkan), speaking (berbicara, bukan nyepik ya!) dan writing (menulis).

Di bagian terakhir, yaitu writing section, gue diminta untuk membuat essay. Ada dua soal. Soal Yang pertama, essay yang berasal dari kemampuan gue untuk merangkum hasil reading dan listening. Soal yang kedua atau soal paling terakhir dari keseluruhan tes adalah essay tentang pendapat pribadi kita mengenai suatu hal. Pertanyaan kedua ini berbunyi begini:

“Is it better to marry someone who is similar to you, rather than someone who is different from you. Use specific reasons and examples to support your answer.”

Artinya kurang lebih begini, “mana yang lebih lo pilih, menikah dengan seseorang yang mirip dengan kita, atau orang yang berbeda dengan kita? Coba jelasin sok atuh!”

Saat membaca pertanyaan itu gue berpikir, “anjiss! Rasis banget nih soal.” Bagi gue yang udah menikah atau orang yang punya pacar dan sudah berencana mau nikah, mungkin pertanyaan ini pernah terlintas dan sedikit masuk akal. Tapi coba bayangkan para jomblo-jomblo yang udah lama gak punya pacar, jangankan mikirin pasangan dia harus sama atau beda dengannya, mikirin gimana caranya bisa punya pacar aja udah bikin pening. Iya kan? Iya kan? *dicincang sama para jomblo*

Anyway, untungnya gue udah nikah. Pertanyaan itu pernah terlintas di otak gue dan menjadi pertanyaan ketika gue memutuskan akan menikah dulu. So, pada saat tes tersebut, sesuai dengan hati nurani gue, (bukan hati nurani rakyat, apalagi hati nurani Hari Tanoe) gue lebih setuju sama pilihan yang kedua, yaitu “gue lebih memilih menikahi seseorang yang berbeda dengan gue.”

5 menit berlalu dan layar komputer gue masih kosong. Otak gue blank. Gue gak bisa menerjemahkan isi pikiran gue ke dalam bahasa Inggris yang enak dibaca. Akhirnya dengan terpaksa, karena pilihan pertama lebih mempunyai alasan-alasan dan contoh-contoh yang mudah ditulis, maka gue menuliskan jawaban essay gue tentang “menikahi pasangan yang mirip dengan kita lebih baik daripada pasangan yang berbeda dengan kita.”

Kenapa gue milih itu? Alasannya sangat klise dan menurut gue gampang dituliskan. Beberapa poin yang gue tulis seperti berikut:
1. Kalo pasangan kita mirip dengan kita, maka enak dan nyaman buat diajak ngobrol. Terus jadi nyambung juga.
2. Menikah itu artinya berkomitmen untuk menghabiskan sisa usia kita sama pasangan kita. Dan ketika sudah tua, ketika uban dan keriput adalah hal yang tersisa menghiasi wajah kita masing-masing, aktivitas apa yang bisa kita lakukan? bukan saling pandang-pandangan sampe subuh, tapi ngobrol bro. Dan ngobrol paling enak ya dengan yang nyambung sama kita.
3. Kalau punya kesamaan, hobi misalnya, maka aktivitas juga bisa dilakukan berdua. Kayak sama2 suka nonton, sama2 suka traveling, sama2 suka lari, sama2 suka baca novel, asal jangan sama2 suka gangguin rumah tangga orang aja.
4. Similar means less conflict. Kalo banyak perbedaan, ujungnya berdebat dan berantem. Ya kan?

4 poin di atas itu yang menjadi kerangka utama dalam membuat essay untuk pertanyaan di atas.

Setelah selesai menjawab essay itu dan ujian selesai, gue merasa ada yang salah. Gue menjawab karena alasan-alasannya mudah dituliskan. Bukan karena itu pendapat yang gue setujui. Padahal di awal, gue setuju bahwa pasangan itu harus beda dengan kita. Gue sendiri pun merasa, gue dan pasangan gue punya banyak sekali perbedaan.

Gue pun coba merefleksikan kenyataan dengan pasangan gue sekarang.

Memang benar, gue dan dian- istri gue, – punya beberapa kesamaan.

Kita sama2 pelupa, gak ribet soal hal2 kecil kaya tanggal jadian, ulang tahun, sama2 suka baca novel, sama2 gak ribet soal naik kendaraan dan beberapa kesamaan lain.

Tapi kalo ditelaah lebih lanjut (halah bahasanya), gue dan dian lebih banyak perbedaannya.
Dian suka pedes, gue gak suka.
Dian suka nonton film korea dan twillight, gue gak suka.
Dian suka cowok, gue enggak. *menurut ngana?*
Dian pipisnya jongkok, gue enggak. *Kecuali lagi boker di wc jongkok.*
Gue ceroboh, asal dan spontan sedangkan dian orangnya rapih dan terencana.
Dian suka makan, gue gak terlalu suka, tapi ujung2nya suka disuruh ngabisin makanan juga sih.
Dan banyak lagi perbedaan2 yang biasanya bikin kita berantem.
Bahkan waktu masih pacaran dulu, entah berapa kali kami berantem yang hampir berujung putus dan gue merasa sepertinya kami itu gak cocok karena banyaknya perbedaan.

Pertanyaannya, kenapa akhirnya kami sampai menikah?

Well, ternyata hidup itu bukanlah seperti soal ujian yang harus memilih a atau b. Harus milih pasangan yg mirip atau yang berbeda dengan kita?

Keduanya harus ada dan hadir agar saling melengkapi.

Kita butuh seseorang yang punya kesamaan sama kita, agar bisa melakukan hal bareng2, nyambung ngobrolnya dengan kita. Kita memilih pasangan pastinya karena menemukan kecocokan. (Ujar si orang yang pasangannya gak setajir adi bakri)

Tapi kalo semuanya sama, sebagai manusia kita akan merasa bosan. Untuk itulah Tuhan menciptakan perbedaan. Biar gak bosan dan juga Agar bisa saling melengkapi.

Ketika ternyata kita berbeda dengan pasangan kita, yang ujungnya bikin berdebat, di situlah kita belajar saling memahami. Belajar Saling mengerti. Belajar mencari solusi. Dan belajar Berkompromi. Karena gak semua hal bisa berjalan dengan apa yang kita mau.

Ada kalanya kita harus mengalah sama ego kita, tapi bukan berarti kita kalah dalam perdebatan. Namun bukan berarti juga kita selalu mengalah terus2an, apalagi mengalah soal perbuatan pasangan yg salah.

Karena yang benar adalah, memaklumi kekurangannya, bukan memaklumi kesalahannya.

Jadi, kalo kalian harus memilih, punya pasangan yang punya kesamaan sama kita atau malah yang punya banyak perbedaan”