Bapak.

Sekitar 2 minggu lalu, ranah politik di dunia maya sedikit ramai ketika Pak Jokowi, Presiden Indonesia yang baru mengumumkan jajaran menteri di Kabinetnya. Salah satu menteri yang cukup banyak diperbincangkan adalah ibu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kenyataan bahwa Ibu Susi hanyalah seorang tamatan SMP. Sepanjang sejarah, mungkin beliau adalah satu-satunya menteri yang mempunyai latar Belakang pendidikan hanya sekolah menengah pertama.

Saat itu, di timeline Facebook gue pun heboh tentang berita Ibu Susi yang lulusan SMP ini diangkat menjadi menteri oleh Pak Jokowi, baik status yang memberikan dukungan maupun yang memberikan kritikan mengarah ke sirik dan nyinyir. Tidak terkecuali salah satu teman gue, pendukung garis keras Koalisi Merah Putih sejak masa kampanye pilpres kemarin. Inti dari status yang dia tulis adalah, kok bisa orang yang Cuma lulusan SMP jadi menteri? Mau dibawa kemana Negara ini? Apa yang akan dia jawab kalau anak dia nanti menanyakan buat apa sekolah lulusan tinggi-tinggi, kalau untuk jadi menteri saja cukup lulusan SMP saja?

Membaca tulisan itu gue sedikit sakit hati. Sakit hati karena si teman gue itu menghina dan merendahkan orang yang Cuma lulusan SMP. Kenapa gue sakit hati? Karena ayah gue, atau yang biasa gue panggil dengan sebutan Bapak, itu sama seperti ibu Susi. Bapak gue juga Cuma lulusan SMP. Sama seperti ibu Susi, Bapak gue sudah bersekolah SMA namun tidak melanjutkan sampai selesai. Jadi hanya ijazah SMP yang dia pegang untuk meneruskan hidupnya.

Gue ingin bercerita sedikit mengenai Bapak gue.

Bapak gue tidak melanjutkan SMA sampai selesai bukan karena tidak mau. Tapi tuntutan hidup yang membuat dia harus mencari uang sedini mungkin untuk bertahan hidup. Karena ijazah yang dia punya hanya ijazah SMP, maka dia pun bekerja sebagai buruh pabrik di salah satu pabrik di Tangerang. Di tempat yang sama, akhirnya dia dipertemukan dengan seorang wanita yang kemudian menjadi jodohnya. Mamah gue.

Tahun-tahun berlalu, mereka akhirnya kemudian menikah dan mempunyai dua orang anak. Singkat cerita, mereka pindah ke rumah Mamah gue di Serang dan meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh pabrik di Tangerang. Di tempat baru, Bapak gue mulai mencari pekerjaan baru. Seiingat gue, sudah puluhan pekerjaan dia lakoni, dari buruh pabrik lagi, sampai cleaning service hotel , asal bisa menghidupi keluarganya. Bahkan pernah menganggur tidak bekerja sekian lama. Yah, memang, pekerjaan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang Cuma punya ijasah SMP saja?

Meskipun gaji pas-pasan, tapi dia tetap ingat untuk membelikan gue mainan robot-robotan dan mobil-mobilan seperti anak lainnya. Kalau dipikir sekarang, entah sekeras apa dia bekerja dulu demi membahagiakan anak-anaknya.

Tahun berganti, Bapak gue diterima jadi pegawai honorer di salah kantor kedinasan pemerintah daerah. Namun pegawai honorer itu pekerjaannya adalah penjaga malam. Semacam security tidak resmi yang menjaga kantor setelah tutup dari malam hingga pagi hari. Seingat gue, pekerjaan itulah yang paling lama dia lakoni dibanding pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Mungkin hampir 5 tahun. Gue masih ingat, ketika bulan puasa, gue mengayuh sepeda gue jam 4 pagi ke kantornya untuk membangunkan dia supaya bisa sahur bareng di rumah.

Waktu berjalan, akhirnya berita baik tiba juga. Bapak gue dihapus status pegawai honorernya dan diangkat sebagai Pegawai Negeri SIpil. Gue sekeluarga sangat bahagia waktu itu. Tapi ternyata, status PNS tidak membuat pekerjaannya berubah. Kantornya tetap mempekerjakan dia sebagai penjaga malam. Namun dia tetap sabar.

Setelah hampir setahun lebih, baru akhirnya pekerjaan Bapak gue berubah menjadi pekerjaan kantor biasa di siang hari. Tapi itupun hanya pekerjaan sebagai pramubakti. Menyiapkan ruang rapat dan membereskan kembali setelah selesai. Kemudian berpindah sebagai supir yang menyetiri dokter-dokter keliling ke seluruh puskesmas di pelosok yang ada di kota gue.

Tahun-tahun pun berlalu. Work hard pays off eventually. Meskipun bukan menjadi pejabat eselon, tapi posisi Bapak gue di kantornya menjadi lebih baik sekarang. Beberapa kali menjadi pimpinan proyek yang dikelola oleh kantornya dan dikenal baik oleh para pejabat Rumah Sakit maupun Dokter karena keuletannya bekerja. Bahkan dibanding teman-teman sekantornya yang selevel, Bapak gue telah mampu membeli sebuah kendaraan roda empat.

Gue masih ingat ketika gue masih kuliah, gue datang ke kantornya karena ada surat yang harus diurus. Dengan bangganya dia memperkenalkan gue dan kampus tempat gue kuliah kepada teman-temannya. Yah mungkin ada sedikit rasa sombong, namun gue bisa membaca, kalau dia hanya ingin menunjukkan bahwa anak dari seorang ayah yang lulusan SMP bisa berkuliah di salah satu universitas Negeri terbaik. Bahkan anak dari bosnya saja belum tentu bisa.

Dan gue pun masih ingat dengan jelas, bagaimana teman-temannya dulu meremehkan dan memandang sebelah mata, ketika gue baru lulus sma dan ditanya mau kuliah dimana? Dan gue jawab mau masuk UI.

Meskipun Cuma lulusan SMP, namun dia tidak pernah menyerah untuk bekerja.

Meskipun Cuma lulusan SMP, namun tidak pernah sedikitpun dia bilang ke anaknya, “Nak, kamu jangan sekolah tinggi-tinggi. Kalau mau sukses, yang penting kerja keras.” Enggak sedikitpun dia bilang begitu. Malah dia yang mensupport gue untuk sekolah di sekolah terbaik dan setinggi-tingginya.

Meskipun Cuma lulusan SMP, tapi kini dia jadi orang yang cukup disegani baik di kantornya maupun di lingkungan rumah.

Dari dia gue belajar, bahwa kerja keras itu akan ada balasannya. Mungkin tidak sekarang, tapi pasti nanti akan ada saatnya.

Just because someone’s education is lower than ours, it doesn’t mean we may insult and underestimate him/her and also they can’t be great people.

Meskipun setelah gue dewasa gue kadang suka berdebat dengannya, karena sama-sama keras kepala. Tapi setiap kali gue butuh bantuan, gue pasti menelepon dia.

Mungkin karena dia laki-laki, kasih sayang yang dia tunjukkan berbeda dengan yang mamah gue tunjukkan. Tapi gue tahu, bahwa kasih sayang dia kepada anak-anaknya, sama besarnya dengan mamah gue.

Happy Father’s Day, Pak. You’re my real hero.

Advertisements

4 thoughts on “Bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s